Aku menatap makam yang ada
didepanku. Langit tak henti-hentinya menangis bersamaku. Kejadian-kejadian lalu
kembali merasuki pikiranku, seperti adegan film yang diputar ulang.
“Aku janji,
aku akan selalu sama kamu, Sa. Menjaga dan memberitahumu bagaimana indahnya
dunia yang ku lihat.” Itu yang selalu ia katakan.
Caca adalah sahabat terbaikku, sahabat yang selalu
mengajariku untuk tak pernah menyerah dalam segala hal. Masih teringat
bagaimana indahnya persahabatan kita. Tertawa riang penuh canda. Masing-masing
dari kami memang memiliki kekurangan, tapi dari situlah kami bisa saling
melengkapi.
Aku dan Caca bersahabat sudah sangat lama, bahkan sebelum
tragedi 6 tahun lalu itu mengubah seluruh hidupku. Saat itu, aku dan kakakku mengalami
sebuah kecelakaan mobil, hanya aku korban yang selamat, sedangkan kakakku
meninggal dalam kecelakaan itu. Dan akibat kecelakaan itu pula, aku kehilangan
warna-warna indah dalam hidupku. Semuanya lenyap. Hanya aku dan kegelapan. Aku
buta.
“Sabar ya, Sa. Aku kan sama kamu. Kamu nggak akan pernah
sendiri. aku janji.” Ucap Caca berusaha menghiburku.
“Makasi, Ca. Aku cuma berharap bisa ngelihat lagi. Supaya
kita bisa main-main lagi kayak dulu.” Jawabku.
“Kamu bisa, Sa. Pasti bisa. Cuma nggak sekarang. Kita
tunggu aja waktunya.” Tambahnya. Mencoba menghiburku lagi.
“Kamu jangan tinggalin aku ya, Ca.. janji ya..” pintaku.
“Iya. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu dalam
keadaanmu yang seperti ini. Aku janji.” Ucapnya kemudian memelukku.
6 tahun aku
hidup di dalam kehidupanku yang kelam, semuanya gelap, tak ada apapun yang bisa
kulihat. Aku selalu tampak baik-baik saja didepan Caca dan keluargaku. Tapi,
sebenarnya tidak. Aku tidak baik-baik saja. Semuanya tidak semudah itu.
Dalam batin,
aku selalu menjerit. Aku menangisi keadaanku yang seperti ini. Aku benci diriku
yang berusaha terlihat baik-baik saja. Aku benci ketika hanya bisa berdiam diri
di rumah. Aku benci tidak bisa melihat wajahku dicermin. Aku benci. Aku benci
semuanya. Aku benci hidupku.
Selama 6
tahun kami berbagi suka-duka, tawa dan tangis. Seperti janjinya, Caca selalu
menemaniku. Aku sangat bersyukur, dibalik kekuranganku, Tuhan memberikan
sahabat terbaik yang bisa melengkapiku. Caca tak pernah malu memiliki sahabat
sepertiku, dan aku sangat terharu akan hal itu. Tapi aku menyadari, tak
selamanya Caca akan ada di sampingku. Siap-tidak siap, aku akan kehilangan
Caca. Kehilangan sosok sahabat yang selalu bersamaku. Sampai ketika masa-masa
sulit itupun menghampiri persahabatan ku dengan Caca. Caca mulai menjerit
kesakitan ketika aku bersamanya. Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Caca tak
pernah menceritakan apapun tentang penyakitnya. Ketika ku tanya, ia selalu
berkata,
“Aku sakit,
Ca. tapi aku nggak tau apa penyakitku. Udahlah, itu nggak penting. Yang terpenting
adalah, gimana kita bisa menghabiskan sisa waktu ini bersama-sama.” Jadi apa
maksudnya? Ia akan meninggalkanku? Kurasa jawabannya adalah “Iya”
Aku mendapat
kabar baik, seseorang mendonorkan matanya untukku. Aku tak sabar akan melihat
lagi. Melihat dunia, melihat keluargaku dan melihat sahabatku, Caca. Tapi,
setelah oprasi pencangkokan mata itu, aku tak pernah melihat Caca lagi. Bahkan
sampai 1 minggu setelahnya. Aku kesal, sahabat macam apa dia, aku sudah bisa
melihat, tapi bahkan ia tak ada disini bersamaku. Tiba-tiba semuanya jelas.
Ketika bunda memberikan sepucuk surat untukku. Sepucuk surat yang bahkan tak
akan pernah aku baca ketika waktu dapat kuputar kembali.
Dear, Sasa..
Hi, Sasa..
gimana perasaannya? Pasti seneng dong.. aku kan udah bilang sama kamu, kamu
pasti bisa ngelihat lagi. Dan sekaranglah waktunya.
Maafin aku
ya, Sa, aku nggak bisa selalu nemenin kamu. Maafin aku karena nggak bisa
nepatin janjiku. Seandainya aku bisa, aku nggak mau sakit kayak gini, Sa. Sakit
yang bikin aku pisah sama sahabatku..
Kamu selalu
tanya aku sakit apa, kurasa sekarang saatnya kamu tau. 5 tahun yang lalu aku
divonis kena Kanker Tulang Belakang tahap 4, dokter mendiagnosis aku cuma bisa
bertahan hidup selama 2 tahun. Tapi ternyata keajaiban datang. Aku bisa bertahan
sampe 6 tahun kedepan karena kamu, sahabatku.. Aku nggak cerita sama kamu
karena aku nggak mau liat kamu khawatir.
Sasa, aku
sakit menahan penyakit ini, tapi aku senang kamu selalu ada bersamaku. Lihatlah
dunia, temukan cintamu, dan gapailah impianmu. Aku akan selalu sama kamu lewat
mataku, aku akan berada disampingmu dengan hatimu.
Jangan
menyerah ya, Sa. Persahabatan ini aku bawa sampai mati. Aku takakan
melupakanmu. Sampai bertemu di dimensi berikutnya sahabatku. Aku menyayangimu,
selalu.
Sahabatmu,
Caca
Setelah membaca surat itu, aku tidak henti-hentinya menangis.
Caca… kenapa ini semua harus terjadi sama kamu? Sama persahabatan kita? Kamu
pergi dan tak kembali. Sebegitu ganasnyakah kanker itu? Kenapa itu bisa
membuatmu meninggalkanku? Kamu sahabat terbaikku, Ca. Dan kamu pergi disaat aku
sudah mulai bisa melihat dunia.
Ya, kamu, Caca. Kamu memberitahuku sungguh betapa
indahnya dunia ini. Kamu menunjukkan kepadaku bahwa banyak yang masih bisa
kulihat dari hidupku ini. Bertahun-tahun terjebak dalam kegelapan, tapi aku
selalu mencoba untuk tetap kuat. Ya, karena aku memilikimu sahabatku.
Penyakit
ganas itu telah merenggut sisa waktumu, merenggut hidupmu, bahkan merenggut
persahabatan kita. Aku terjebak dalam dunia yang gelap, tapi kamu lebih
tersiksa dalam rasa sakit akibat penyakit ganas itu. Kanker itu yang menyebabkanmu
meninggalkanku. Itu yang menyebabkanku tidak bisa melihatmu lagi, menatapmu,
tertawa bersamamu, dan menceritakan kisah sedih denganmu.
Aku tahu, kamu
nggak benar-benar pergi. Kamu ada bersamaku, kamu yang telah memberikan dunia
baru ini kepadaku. Dunia yang begitu indah. Aku akan selalu menjaga mata ini
dan melihat apa yang pernah kamu lihat, Ca. Aku juga menyayangimu, Ca, selalu.
(Oleh : Kiki Linda)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar