Selasa, 27 Agustus 2013

Your Eyes My Life


            Aku menatap makam yang ada didepanku. Langit tak henti-hentinya menangis bersamaku. Kejadian-kejadian lalu kembali merasuki pikiranku, seperti adegan film yang diputar ulang.
“Aku janji, aku akan selalu sama kamu, Sa. Menjaga dan memberitahumu bagaimana indahnya dunia yang ku lihat.” Itu yang selalu ia katakan.
            Caca adalah sahabat terbaikku, sahabat yang selalu mengajariku untuk tak pernah menyerah dalam segala hal. Masih teringat bagaimana indahnya persahabatan kita. Tertawa riang penuh canda. Masing-masing dari kami memang memiliki kekurangan, tapi dari situlah kami bisa saling melengkapi.
            Aku dan Caca bersahabat sudah sangat lama, bahkan sebelum tragedi 6 tahun lalu itu mengubah seluruh hidupku. Saat itu, aku dan kakakku mengalami sebuah kecelakaan mobil, hanya aku korban yang selamat, sedangkan kakakku meninggal dalam kecelakaan itu. Dan akibat kecelakaan itu pula, aku kehilangan warna-warna indah dalam hidupku. Semuanya lenyap. Hanya aku dan kegelapan. Aku buta.
            “Sabar ya, Sa. Aku kan sama kamu. Kamu nggak akan pernah sendiri. aku janji.” Ucap Caca berusaha menghiburku.
            “Makasi, Ca. Aku cuma berharap bisa ngelihat lagi. Supaya kita bisa main-main lagi kayak dulu.” Jawabku.
            “Kamu bisa, Sa. Pasti bisa. Cuma nggak sekarang. Kita tunggu aja waktunya.” Tambahnya. Mencoba menghiburku lagi.
            “Kamu jangan tinggalin aku ya, Ca.. janji ya..” pintaku.
            “Iya. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu dalam keadaanmu yang seperti ini. Aku janji.” Ucapnya kemudian memelukku.
           
6 tahun aku hidup di dalam kehidupanku yang kelam, semuanya gelap, tak ada apapun yang bisa kulihat. Aku selalu tampak baik-baik saja didepan Caca dan keluargaku. Tapi, sebenarnya tidak. Aku tidak baik-baik saja. Semuanya tidak semudah itu.
Dalam batin, aku selalu menjerit. Aku menangisi keadaanku yang seperti ini. Aku benci diriku yang berusaha terlihat baik-baik saja. Aku benci ketika hanya bisa berdiam diri di rumah. Aku benci tidak bisa melihat wajahku dicermin. Aku benci. Aku benci semuanya. Aku benci hidupku.
Selama 6 tahun kami berbagi suka-duka, tawa dan tangis. Seperti janjinya, Caca selalu menemaniku. Aku sangat bersyukur, dibalik kekuranganku, Tuhan memberikan sahabat terbaik yang bisa melengkapiku. Caca tak pernah malu memiliki sahabat sepertiku, dan aku sangat terharu akan hal itu. Tapi aku menyadari, tak selamanya Caca akan ada di sampingku. Siap-tidak siap, aku akan kehilangan Caca. Kehilangan sosok sahabat yang selalu bersamaku. Sampai ketika masa-masa sulit itupun menghampiri persahabatan ku dengan Caca. Caca mulai menjerit kesakitan ketika aku bersamanya. Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Caca tak pernah menceritakan apapun tentang penyakitnya. Ketika ku tanya, ia selalu berkata,
“Aku sakit, Ca. tapi aku nggak tau apa penyakitku. Udahlah, itu nggak penting. Yang terpenting adalah, gimana kita bisa menghabiskan sisa waktu ini bersama-sama.” Jadi apa maksudnya? Ia akan meninggalkanku? Kurasa jawabannya adalah “Iya”

Aku mendapat kabar baik, seseorang mendonorkan matanya untukku. Aku tak sabar akan melihat lagi. Melihat dunia, melihat keluargaku dan melihat sahabatku, Caca. Tapi, setelah oprasi pencangkokan mata itu, aku tak pernah melihat Caca lagi. Bahkan sampai 1 minggu setelahnya. Aku kesal, sahabat macam apa dia, aku sudah bisa melihat, tapi bahkan ia tak ada disini bersamaku. Tiba-tiba semuanya jelas. Ketika bunda memberikan sepucuk surat untukku. Sepucuk surat yang bahkan tak akan pernah aku baca ketika waktu dapat kuputar kembali.

Dear, Sasa..
            Hi, Sasa.. gimana perasaannya? Pasti seneng dong.. aku kan udah bilang sama kamu, kamu pasti bisa ngelihat lagi. Dan sekaranglah waktunya.
            Maafin aku ya, Sa, aku nggak bisa selalu nemenin kamu. Maafin aku karena nggak bisa nepatin janjiku. Seandainya aku bisa, aku nggak mau sakit kayak gini, Sa. Sakit yang bikin aku pisah sama sahabatku..
            Kamu selalu tanya aku sakit apa, kurasa sekarang saatnya kamu tau. 5 tahun yang lalu aku divonis kena Kanker Tulang Belakang tahap 4, dokter mendiagnosis aku cuma bisa bertahan hidup selama 2 tahun. Tapi ternyata keajaiban datang. Aku bisa bertahan sampe 6 tahun kedepan karena kamu, sahabatku.. Aku nggak cerita sama kamu karena aku nggak mau liat kamu khawatir.
            Sasa, aku sakit menahan penyakit ini, tapi aku senang kamu selalu ada bersamaku. Lihatlah dunia, temukan cintamu, dan gapailah impianmu. Aku akan selalu sama kamu lewat mataku, aku akan berada disampingmu dengan hatimu.
            Jangan menyerah ya, Sa. Persahabatan ini aku bawa sampai mati. Aku takakan melupakanmu. Sampai bertemu di dimensi berikutnya sahabatku. Aku menyayangimu, selalu.
Sahabatmu,
Caca    

            Setelah membaca surat itu, aku tidak henti-hentinya menangis. Caca… kenapa ini semua harus terjadi sama kamu? Sama persahabatan kita? Kamu pergi dan tak kembali. Sebegitu ganasnyakah kanker itu? Kenapa itu bisa membuatmu meninggalkanku? Kamu sahabat terbaikku, Ca. Dan kamu pergi disaat aku sudah mulai bisa melihat dunia.
            Ya, kamu, Caca. Kamu memberitahuku sungguh betapa indahnya dunia ini. Kamu menunjukkan kepadaku bahwa banyak yang masih bisa kulihat dari hidupku ini. Bertahun-tahun terjebak dalam kegelapan, tapi aku selalu mencoba untuk tetap kuat. Ya, karena aku memilikimu sahabatku.
Penyakit ganas itu telah merenggut sisa waktumu, merenggut hidupmu, bahkan merenggut persahabatan kita. Aku terjebak dalam dunia yang gelap, tapi kamu lebih tersiksa dalam rasa sakit akibat penyakit ganas itu. Kanker itu yang menyebabkanmu meninggalkanku. Itu yang menyebabkanku tidak bisa melihatmu lagi, menatapmu, tertawa bersamamu, dan menceritakan kisah sedih denganmu.
Aku tahu, kamu nggak benar-benar pergi. Kamu ada bersamaku, kamu yang telah memberikan dunia baru ini kepadaku. Dunia yang begitu indah. Aku akan selalu menjaga mata ini dan melihat apa yang pernah kamu lihat, Ca. Aku juga menyayangimu, Ca, selalu.

(Oleh : Kiki Linda)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar