Terimakasih sebelumnya untuk Kak Melin yang sudah mau berbagi
cerita dan mengizinkan ceritanya untuk di post di blog saya. Terimakasih,
karena dengan cerita ini, tugas Jurnalistik saya bisa terselesaikan.
Terimakasih juga untuk teman-teman yang mau meluangkan waktu untuk membaca
tulisan saya ini. Sekali lagi terimakasih banyak. Semoga teman-teman menyukai
apa yang saya tulis, Selamat Membaca ^^
Hal yang paling membahagiakan bagi seorang anak adalah ketika ia bisa melakukan yang terbaik untuk kedua orang tuanya. Air mata Melin tumpah begitu saja mengingat apa yang telah terjadi dalam hidupnya. Ia tetap berusaha membahagiakan mama yang sangat dikasihinya. Serta ayahnya tercinta, meski mereka berada di dua alam yang berbeda.
Kejadian 4 tahun
lalu merupakan pukulan bagi Melin dan seluruh keluarganya. Sang ayah tercinta
pergi meninggalkan mereka. Bertepatan dengan hari ulang tahun Melin pada
tanggal 17 Mei 2009, sang ayah dilarikan ke rumah sakit karena penyakit jantung
dan diabetes yang telah dideritanya selama 7 tahun semakin bertambah parah.
Hanya 2 hari di rumah sakit, ayahnya sudah memaksa untuk pulang, bahkan nekat melepas
infusnya. Karna khawatir, akhirnya keluarga memutuskan agar sang ayah di rawat
di rumah.
Tiga hari dua malam menjalani rawat jalan, keadaan
sang ayah justru semakin memburuk. Melin sangat panik sehingga memutuskan untuk
memanggil dokter. Ia berharap tidak akan ada hal buruk yang menimpa ayahnya.
Begitu dokter datang dan selesai memeriksa keadaan sang ayah, dokter
mengabarkan bahwa ayah Melin sudah tidak dapat tertolong lagi. Melin begitu
terpukul, ia jatuh terduduk, air matanya menetes membasahi wajahnya yang
semakin memerah. Sama seperti Melin, mama dan kedua kakaknya juga merasakan hal
yang sama. Mereka belum siap, semuanya seperti tidak nyata. Mereka tak
menyangka akan begitu cepat di tinggal oleh ayah tercinta.
Melinda Wardani, anak ke-3 dari 3 bersaudara ini memiliki
hubungan yang sangat dekat dengan ayahnya. Kemanapun ayahnya akan pergi, beliau
tidak akan lupa mengajak Melin bersamanya. Ayahnya dikenal sebagai orang yang
tegas, namun beliau sebenarnya memiliki sifat yang baik dan tidak tegaan. Beliau
adalah orang yang sangat disegani oleh keluarga dan teman-temannya, sehingga
kepergiannya tentu saja menyisakan luka yang sangat mendalam bagi orang-orang
yang ditinggalkannya. Melin mempunyai cita-cita yang tidak mampu ia wujudkan
untuk ayahnya, yaitu usaha ternak ikan di kampung halaman. Karena ayahnya
pernah berkata bahwa beliau sangat ingin menghabiskan masa tuanya di kampung
halaman.
Hari itu, tanggal 23 Mei 2009, tepat 2 hari sebelum
hari ulangtahunnya, sang ayah langsung dimakamkan. Beliau menghembuskan nafas
terakhir pada pukul 09.00 WIB, dan kemudian dimakamkan sekitar pukul 12.30 WIB.
Seluruh keluarga besar Melin menghadiri acara pemakaman tersebut. Suasana haru
menyelubungi prosesi pemakaman, semuanya merasa sangat kehilangan sosok yang
mereka cintai.
Sampai sekarang
Melin masih sering merindukan ayahnya, ia sempat terpuruk untuk waktu yang
cukup lama. Namun, Melin selalu berusaha untuk melihat kedepan. Ia masih
memiliki mama yang menyayanginya, ia tidak ingin mengecewakan orang tua
satu-satunya yang masih ia miliki. Apalagi saat ini ia hanya tinggal berdua
dengan mamanya, karena kedua kakaknya telah menikah dan hidup bersama
keluarganya masing-masing. Melin tidak ingin membuat mamanya sedih, Melin hanya
ingin membuat mamanya bahagia dan bangga padanya. Ia yakin, dengan begitu
ayahnya juga akan merasa bangga dan bahagia, meski kini mereka berada di dua
tempat yang berbeda.
Narasumber : Melinda Wardani
Pondok Bambu,
Jakarta Timur.
(Oleh : Kiki Ofia Lestari)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar