Rabu, 25 September 2013

"Ayah, Sosok Pria Yang Dicinta"



Terimakasih sebelumnya untuk Kak Melin yang sudah mau berbagi cerita dan mengizinkan ceritanya untuk di post di blog saya. Terimakasih, karena dengan cerita ini, tugas Jurnalistik saya bisa terselesaikan. Terimakasih juga untuk teman-teman yang mau meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya ini. Sekali lagi terimakasih banyak. Semoga teman-teman menyukai apa yang saya tulis, Selamat Membaca ^^



                Hal yang paling membahagiakan bagi seorang anak adalah ketika ia bisa melakukan yang terbaik untuk kedua orang tuanya. Air mata Melin tumpah begitu saja mengingat apa yang telah terjadi dalam hidupnya. Ia tetap berusaha membahagiakan mama yang sangat dikasihinya. Serta ayahnya tercinta, meski mereka berada di dua alam yang berbeda.
                Kejadian 4 tahun lalu merupakan pukulan bagi Melin dan seluruh keluarganya. Sang ayah tercinta pergi meninggalkan mereka. Bertepatan dengan hari ulang tahun Melin pada tanggal 17 Mei 2009, sang ayah dilarikan ke rumah sakit karena penyakit jantung dan diabetes yang telah dideritanya selama 7 tahun semakin bertambah parah. Hanya 2 hari di rumah sakit, ayahnya sudah memaksa untuk pulang, bahkan nekat melepas infusnya. Karna khawatir, akhirnya keluarga memutuskan agar sang ayah di rawat di rumah.
Tiga hari dua malam menjalani rawat jalan, keadaan sang ayah justru semakin memburuk. Melin sangat panik sehingga memutuskan untuk memanggil dokter. Ia berharap tidak akan ada hal buruk yang menimpa ayahnya. Begitu dokter datang dan selesai memeriksa keadaan sang ayah, dokter mengabarkan bahwa ayah Melin sudah tidak dapat tertolong lagi. Melin begitu terpukul, ia jatuh terduduk, air matanya menetes membasahi wajahnya yang semakin memerah. Sama seperti Melin, mama dan kedua kakaknya juga merasakan hal yang sama. Mereka belum siap, semuanya seperti tidak nyata. Mereka tak menyangka akan begitu cepat di tinggal oleh ayah tercinta.
Melinda Wardani, anak ke-3 dari 3 bersaudara ini memiliki hubungan yang sangat dekat dengan ayahnya. Kemanapun ayahnya akan pergi, beliau tidak akan lupa mengajak Melin bersamanya. Ayahnya dikenal sebagai orang yang tegas, namun beliau sebenarnya memiliki sifat yang baik dan tidak tegaan. Beliau adalah orang yang sangat disegani oleh keluarga dan teman-temannya, sehingga kepergiannya tentu saja menyisakan luka yang sangat mendalam bagi orang-orang yang ditinggalkannya. Melin mempunyai cita-cita yang tidak mampu ia wujudkan untuk ayahnya, yaitu usaha ternak ikan di kampung halaman. Karena ayahnya pernah berkata bahwa beliau sangat ingin menghabiskan masa tuanya di kampung halaman.
Hari itu, tanggal 23 Mei 2009, tepat 2 hari sebelum hari ulangtahunnya, sang ayah langsung dimakamkan. Beliau menghembuskan nafas terakhir pada pukul 09.00 WIB, dan kemudian dimakamkan sekitar pukul 12.30 WIB. Seluruh keluarga besar Melin menghadiri acara pemakaman tersebut. Suasana haru menyelubungi prosesi pemakaman, semuanya merasa sangat kehilangan sosok yang mereka cintai.
                Sampai sekarang Melin masih sering merindukan ayahnya, ia sempat terpuruk untuk waktu yang cukup lama. Namun, Melin selalu berusaha untuk melihat kedepan. Ia masih memiliki mama yang menyayanginya, ia tidak ingin mengecewakan orang tua satu-satunya yang masih ia miliki. Apalagi saat ini ia hanya tinggal berdua dengan mamanya, karena kedua kakaknya telah menikah dan hidup bersama keluarganya masing-masing. Melin tidak ingin membuat mamanya sedih, Melin hanya ingin membuat mamanya bahagia dan bangga padanya. Ia yakin, dengan begitu ayahnya juga akan merasa bangga dan bahagia, meski kini mereka berada di dua tempat yang berbeda.


Narasumber          : Melinda Wardani
  Pondok Bambu, Jakarta Timur.


(Oleh : Kiki Ofia Lestari)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar