Kamis, 10 Oktober 2013

“STAY OR LEAVE?”

“If you love me, let me know. If not, please let me go”
—ANONYMOUS

            Dia tak pernah tau bagaimana rasanya menjadi aku, menjadi orang yang selalu menunggunya, menunggu untuk cintanya. Cinta yang selalu ia berikan kepada laki-laki lain, laki-laki yang bukan aku.

            Senyumnya. Senyum itu yang mampu membuat hatiku terpaut padanya, sejak pertemuan kami hari itu, aku tidak pernah bisa berhenti memikirkannya. Aku mulai yakin, ialah gadis yang selama ini aku cari, gadis yang selama ini menjadi impianku. Dan kini dapat kurasakan ia tak akan lagi menjadi mimpi, ia telah menjelma menjadi sebuah kenyataan manis yang harus ku kejar dan aku dapatkan. Ya, dia harus bisa aku dapatkan.

            Hasratku sudah tak terbendung lagi untuk menjadikannya sang kekasih hati. Aku berpikir ialah yang terbaik, terbaik untuk menjadi pendampingku saat ini. Aku tak pernah lelah dan menyerah untuk mencari tau segala hal tentangnya. Aku tak peduli pada perbedaan usia kami. Aku menyayanginya, itu yang terpenting. Tapi, tak pernah aku sangka sebelumnya, bahwa aku harus menerima kenyataan pahit itu. Sang gadis pujaan hati yang selama ini aku impikan telah memiliki kekasih. Mendengar hal itu saja sudah membuat hatiku merasa teriris, apalagi setelah menghadapi kenyataan bahwa lelaki beruntung itu adalah adik sepupuku sendiri. Bisakah kalian bayangkan seberapa sakitnya hatiku menerima kenyataan itu?

            Aku terdiam. Tak ada yang tahu seberapa sakitnya hatiku saat itu. Aku menyimpan rasa perih itu sendirian, aku tak akan pernah membaginya. Tidak untuk adik sepupuku, bahkan tidak untuk gadis itu. Aku tak ingin ada yang ikut bersedih bersamaku, aku tak ingin mereka mengasihani aku, aku tak ingin merusak kebahagiaan mereka. Biarkan aku sendiri yang merasakan sakitnya, asalkan gadis yang kusayangi bahagia. Meskipun sebenarnya aku sangat menyadari kebahagian yang ia rasakan bukanlah karena diriku. Tak masalah buatku. Akan kusimpan perasaan ini untuk beberapa saat, dan nanti ketika waktunya telah tiba, aku akan mengungkapkannya, aku yang akan maju dan memberikan beribu kebahagiaan untuknya. Ya, untuk gadisku. Gadis yang saat ini kembali menjadi angan dan impianku.
           
***



            Akhirnya masa-masa penantian itu telah usai, ia dan adikku sudah tak terikat hubungan apapun. Aku cukup merasa sedih mengingat ia adalah mantan kekasih sepupuku sendiri, tapi aku tak dapat menyangkal bahwa hatiku benar-benar merasa bahagia. Aku senang, akhirnya dapat memiliki kesempatan untuk mengutarakan perasaanku padanya. Saat yang aku tunggu telah tiba. Kini aku kembali, dan waktunya untuk beraksi.

            Aku dan gadis itu mulai menjalin hubungan pertemanan. Aku sangat senang, ini merupakan awal yang baik bagi hubungan kami. Lamat laun aku dan dia semakin akrab. Terkadang aku sempat merasakan ia memiliki perasaan yang sama. Entah itu memang kenyataan atau hanya harapanku saja. Aku menyingkirkan segala pikiran negatif yang menyerangku, aku harus selalu berpikir positif jika ingin mendapatkan apa yang aku inginkan.

            Gadis itu, dengan segala tingkah lakunya yang sopan, tutur katanya yang lembut, dan senyumnya yang manis serta tawanya yang menggemaskan membuat aku semakin mengaguminya. Melupakannya begitu sulit, kurasa aku benar-benar telah menggilainya. Ia memberikan warna baru dalam hidupku. Aku tak henti-hentinya memohon pada tuhan agar kelak ia bisa menjadi milikku. Ia harus tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya terhadapnya. Ya, harus. Segera.

***

            Saat yang ku tunggu-tunggu akhirnya tiba. Hari ini kuputuskan untuk mengungkapkan seluruh isi hatiku padanya. Perasaan yang selama ini selalu ku pendam, perasaan yang begitu sulit untuk kuungkapkan, perasaan sayang yang begitu dalam untuknya. Ya, ini waktunya. Aku tak akan mengulurnya lebih lama lagi. Saat ini juga akan kuungkapkan, tak ada yang akan kututupi lagi. Tak ada lagi diriku yang hanya terus menunggu ketidakpastian. Ini aku, dan ini keputusan yang aku ambil. Saatnya maju untuk menggapai semua yang kuimpikan.

            Aku mulai resah, jantungku berdegup lebih cepat dari yang sebelumnya. Namun, ia tak juga menghubungiku, bahkan membalas pesan singkat dari akupun tidak. Seketika harapanku mulai runtuh begitu saja. Ada yang salah dari semua ini, sesuatu telah terjadi. Entah apa itu, yang jelas aku merasa apa yang telah kulakukan kembali sia-sia. Jadi, apa maksudnya ini? Ia menolakku? Atau ada jawaban lain dari semua pertanyaan ini? Aku terus bertanya-tanya dalam hati. Tapi tak ada jawaban. Nihil.

            Aku terkejut ketika handphone ku bergetar, kudapati sebuah pesan singkat yang bertuliskan namanya, nama gadis itu. Kutarik napasku dalam-dalam sebelum mulai membacanya. Perasaanku tak karuan, aku hanya berharap jawaban yang ia berikan akan sesuai dengan yang aku harapkan.
            “Kak, maafin aku. Dia memintaku untuk kembali padanya, dan aku menyetujuinya. Sejujurnya aku masih sangat menyayanginya. Maaf sudah mengecewakanmu, kak..”
            Aku hanya terdiam, seketika aku hanya mampu merasakan rasa sakit yang begitu menusuk hatiku. Bak sebilah pisau di tusukkan menembus jantungku. Hatiku begitu sakit. Aku tak habis pikir, Kenapa kejadian ini bisa terjadi untuk yang kedua kalinya? Kenapa aku harus disakiti oleh gadis yang sama dengan alasan yang sama pula untuk yang kedua kalinya? Kenapa aku tak bisa berhenti dan menghapus segala rasa sayangku pada gadis itu? Perasaan ini begitu menyiksaku, Tuhan……

            Aku merasa bahwa aku benar-benar membutuhkan kepastian. Tak seharusnya gadis yang baik seperti dia menggantungkan perasaan seseorang yang benar-benar tulus menyayanginya. Jadi, saat itu juga kuputuskan untuk mengajaknya bertemu.
            Entah sudah berapa jam aku menunggunya, ia tak kunjung datang menemuiku. Aku mulai resah, aku takut ia tak akan datang. Aku takut ia tak akan menemuiku. Aku takut semua ini akan berakhir lagi dengan kekecewaan. Tuhan, aku benar-benar berharap ia akan datang untuk menemuiku.

            Apa yang aku takutkan benar-benar terjadi, ia tak datang, dan tak akan pernah datang mengunjungiku untuk membalas segala perasaanku padanya. Aku pulang dengan perasaan hampa, aku dapat merasakan apa yang pernah dirasakan oleh ShakespareAku telah menyia-nyiakan waktu, dan sekarang waktulah yang menyia-nyiakan aku.

       “Aku tak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Aku tak tahu bagaimana perasaanmu padaku yang sebenarnya. Apakah kita hanya teman? Atau bahkan lebih? Gadisku, kumohon, jika kau mencintaiku, biarkanlah aku tahu. Tapi, jika tidak, tolong biarkan aku pergi.”
Ini begitu berat untukku. Aku mulai berdebat dengan hati kecilku, entah apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku sedang dihadapkan dengan dua pilihan. Pilihan yang cukup berat. Ketika aku harus memutuskan untuk “tinggal atau pergi”.



(Oleh : Kiki Ofia Lestari)

HIV/AIDS Has Killed My Best Friend


“Masa-masa muda yang indah hanya akan terjadi sekali seumur hidupmu. Jadi, jangan sia-siakan masa mudamu, sesal kemudian tak akan pernah berarti..”
~Kiki Ofia

            Aku mengangkat panggilan dari seseorang yang namanya tertera di layar HP-ku.
“Halo, Sheril? Ada apa?”
“Nay, aku tidak masuk sekolah hari ini, keadaanku sedang tidak baik. Tolong mintakan izin. Bye. *tutttutttutt*”
            Belum sempat aku menjawabnya, telepon di seberang sudah di matikan. Sheril banyak berubah, ia sering membolos, padahal dulu ia adalah anak yang rajin dan berprestasi, namun semuanya berubah semenjak pertemanannya dengan Khanza.

            Beberapa bulan terakhir Sheril sering membolos, aku yang mengkhawatirkannya memutuskan untuk berkunjung ke tempat kost-nya. Aku terkejut melihat kamar kost sheril yang berantakan, putung rokok berserakan di mana-mana, aroma keras alcohol begitu tercium, seolah-olah baru saja di adakan pesta mabuk-mabukan. Sheril terlihat begitu pucat dan kurus, lingkaran hitam di matanya jelas menunjukkan bahwa ia melewati malam tanpa tertidur.
“Sheril, apa kamu baik-baik saja?” tanya ku mengkhawatirkannya.
“heeemm…” Sheril hanya mengangguk. Ia tidak begitu menghiraukan perkataanku.
“Kenapa kamu tidak pernah sekolah? Kamu banyak berubah semenjak bergaul dengan Khanza. Dia tidak baik untukmu. Segeralah masuk sekolah, kamu sudah tertinggal banyak pelajaran.”
“Naya, bisakah kamu tidak mencampuri urusanku? Aku sekolah atau tidak itu bukan urusanmu. Dan Khanza? Berteman dengannya lebih menyenangkan, tidak seperti kamu yang membosankan! Sekarang pulanglah dan urus dirimu sendiri!” Sheril membanting pintu kamar kost-nya. Aku tak menyangka sahabatku sendiri tega memperlakukanku seperti itu.

Pernyataan Sheril minggu lalu benar-benar menyakiti perasaanku. Aku tak pernah menghubunginya lagi semenjak kejadian itu. Ketika kami bertemu di sekolahpun aku tak pernah menghiraukannya meskipun sesekali ia mencoba tersenyum padaku. Aku selalu saja mengabaikannya, begitupula dengan teman-teman yang lain.

Aku menyadari ada yang lain dari Sheril beberapa hari terakhir. Ia terlihat begitu pucat, semakin hari ia juga terlihat semakin kurus. Aku jarang melihatnya bersama Khanza, bahkan seolah-olah Khanza seperti memusuhi Sheril. Tapi meskipun tak pernah bersama Khanza lagi, Sheril tetap jarang masuk sekolah. Aku cukup khawatir dengan keadaannya, ya itulah Sheril, tak pernah berhenti membuat orang lain khawatir. Ya, Tuhan, Sheril kamu di mana? Aku sangat mengkhawatirkanmu, sahabatku……

Aku mengambil HP-ku yang sejak tadi terus bergetar, 11 panggilan tidak terjawab dan 1 pesan dari Sheril.
“Naya, maafkan perkataan ku beberapa minggu yang lalu. Aku menyesal, Naya. Kamu benar, Khanza bukanlah teman yang baik untukku. Ia meninggalkanku di saat aku benar-benar terpuruk. Naya, kumohon.. aku membutuhkanmu, hanya kamu sahabat yang saat ini aku miliki..”

Aku bergegas pergi ke tempat kost Sheril, aku harus memastikan bahwa ia baik-baik saja. Aku terkejut mendapati Sheril terduduk sambil menangis, keadaannya benar-benar tidak sedang baik.
“Sheril, apa yang terjadi? Aku mengkhawatirkanmu.”
“Naya, maafkan perkataanku beberapa minggu yang lalu. Kamu benar, Khanza bukanlah teman yang baik untukku, ia menjauhiku setelah mengetahui keadaanku saat ini. Aku menyesal Naya, aku sungguh menyesal, maafkan aku.” Sheril menangis sambil memelukku.
“Memangnya apa yang terjadi padamu Sheril? Mengapa ia menjauhimu? Cepat katakan padaku!” aku terus mendesaknya. Ia tidak menjawab perkataanku. Sheril hanya menyodorkan secarik kertas.

            Aku tersentak setelah membaca tulisan di kertas yang di berikan Sheril padaku. Sheril tak berhenti menangis, sedangkan aku hanya duduk terdiam di tempatku. Aku benar-benar terkejut, mengetahui bahwa Sheril di vonis terkena HIV/AIDS oleh dokter, bahkan aku nyaris tak percaya bahwa hal ini terjadi pada sahabatku.

            Semenjak orang tuanya meninggal beberapa tahun yang lalu, hanya aku yang dimiliki oleh Sheril. Aku satu-satunya orang terdekatnya. Aku berusaha menghibur dan menemaninya. Tak perduli HIV/AIDS telah menghancurkan hidupnya, tak peduli seberapapun buruknya pandangan orang terhadapnya, bagaimanapun itu tak akan pernah merubah bahwa Sheril adalah sahabatku yang tercinta.

            Beberapa hari terakhir Sheril tak menghubungiku, bahkan ia mulai membolos sekolah lagi, aku disibukkan dengan berbagai tugas sekolah sehingga tidak dapat selalu menemaninya.

            HP-ku terus bergetar, buru-buru aku mengangkatnya setelah menyadari itu adalah telepon dari Sheril.
            “Halo, Sheril?”
            “Naya……” suaranya terdengar begitu pelan, dan aku menyadari bahwa ia sedang menangis.
            “Ada apa, Sheril? Apa kamu baik-baik saja?” tanyaku mencemaskan keadaannya.
            “Nay, makasih ya, selama ini kamu mau jadi sahabat terbaikku. Terimakasih kamu masih mau menemaniku bahkan di hari-hari terburukku. Terimakasih atas kepedulianmu, dan terimakasih atas seluruh cinta yang kamu berikan untukku, terimakasih untuk semuaya, Naya. Kau adalah sahabat terbaik sepanjang hidupku. Jaga dirimu, aku berharap apa yang terjadi padaku tak akan pernah terjadi padamu. Aku menyayangimu sampai kapanpun. *tutttutttutt*”
Jujur aku tak mengerti apa yang dikatakan oleh Sheril, berkali-kali aku mencoba menghubunginya lagi, namun HP-nya tidak bisa di hubungi.

            Perkataan Sheril kemarin membuatku tak tenang. Sehingga ku putuskan untuk mengunjungi tempat kost-nya. Aku terkejut melihat kerumunan orang di depan kamar kost Sheril. Aku bertanya pada salah satu dari sekian orang yang berkerumun di sana, dan ku sadari air mataku mulai menetes.

            Sejak semalam aku tak berhenti menangis, aku tak menyangka akan kehilangan sahabat yang sangat ku cintai. HIV/AIDS telah merenggut nyawa Sheril, Sheril seorang gadis yang ku kenal sangat periang. Aku benar-benar merasa kehilangannya. Aku menyadari HIV/AIDS dapat menyerang siapapun. Siapapun termasuk sahabatku, Sheril. Dan kini dia tak akan bisa bersama ku lagi, bersama untuk bercanda dan menangis, bersama untuk sama-sama melewati kerasnya hidup, bersama-sama untuk menikmati indahnya dunia, dan bersama-sama untuk mencapai masa depan. Kini semuanya usai, usai seiring terkuburnya semua cita-cita Sheril. Ya, cita-cita Sheril, bukan cita-citaku. Aku akan berusaha menggapai cita-cita ku, cita-cita yang selama ini ku capai bersama Sheril, dan aku akan mencapainya, meski tak bersama Sheril. Aku yakin, aku yakin aku bisa. Semuanya, demi Sheril, demi cita-cita, dan demi persahabatan kita.

(Oleh : Kiki Ofia Lestari)

“Someday you’ll be mine”

“Dia pasti tak tahu, betapa sakitnya cinta yang tak terbalas. Namun, dia harus tahu rasanya jauh lebih perih saat hatiku berkeras untuk tetap menunggunya. Menunggu dia yang menganggapku hanya seperti angin lalu..”

            Aku berusaha memposisikan diriku senyaman mungkin di sekolah ini, karena ini merupakan hari pertama aku menginjak bangku SMA setelah 1 minggu menjalani MOS (Masa Orientasi Siswa). Tak banyak teman yang ku kenal di kelas ini, tetapi beberapa di antaranya adalah teman SMP ku.
Aku masih teringat kejadian-kejadian lucu di kala MOS, teguran kakak-kakak panitia, dan sesekali tersenyum mengingat kesalahan yang pernah ku lakukan saat itu. Memutar kejadian itu membuatku teringat pada salah seorang kakak panitia, menurutku dia panitia yang paling baik. Dia mampu mengalihkan perhatianku setiap kali aku melihatnya.
“Hay, nama kamu siapa?” ucap teman sebangkuku  membuyarkan lamunanku.
            “Hay, aku Kiara. Kamu?” tanyaku balik.
            “Aku Cecil, salam kenal ya.” Jawabnya dengan ramah.
Setelah beberapa minggu akhirnya aku berhasil menyesuaikan diri, aku sudah mulai bisa bergaul dengan teman-teman, beberapa di antara kami menceritakan kehidupan kami masing-masing.

            Berawal dari twitter aku mencoba menyapa Kak Bagas, hingga pada akhirnya kami bertukar nomor Handphone. Awalnya kami hanya sering bercanda karena dia memang orang yang lucu, terkadang ia juga menyapaku saat kami bertemu di sekolah. lamat laun kami semakin akrab dan hingga akhirnya ia mengetahui bahwa aku menyukainya.
            Aku menceritakan kedekatanku dengan Kak Bagas pada sahabat baruku, Cecil, ia terlihat antusias dan sangat mendukungku. Baginya melihatku senang, itu juga dapat membuatnya senang. Sayangnya aku tidak berani terlalu berharap pada Kak Bagas, aku takut jika akhirnya aku akan menerima kekecewaan.
            “Cil, tau nggak, aku mulai deket, loh, sama Kak Bagas.” Ucapku sambil tersenyum senang.
            “Serius?? Ciee.. seneng tuh.. gak lama lagi bakal ada kemajuan nih kamu!” ia memberikan dukungan.
            “Iya, serius! Duh.. tapi aku gak yakin deh ya.. nggak usah terlalu ngarep dulu, lah, nanti kalo gak sesuai harapan, bakal nyesek.” Kataku mulai pesimis.
            “Ya, tapi kan harus tetep semangat, Kiara.. Semangat ya, Ki!” ucapnya sembari tersenyum padaku.

            Setelah beberapa bulan berlalu, hubunganku dengan Kak Bagas tidak seakrab dulu. Sebenarnya aku sangat sedih, pada awalnya aku mengira hubungan kami akan semakin dekat seiring berjalannya waktu.
            Aku pun mulai menyadari bahwa kak Bagas tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Selama ini ternyata hanya aku yang terlalu berharap. Aku memutuskan untuk mengubur perasaanku padanya. Aku merasa lelah, menyukai orang yang selama ini selalu mengabaikanku.
            “Kamu kenapa, Ki? Akhir-akhir ini aku sering ngelihat kamu murung? Aku jadi khawatir.” tanya Cecil mengkhawatirkanku.
            “Nggak kok, Cil. Aku nggak apa-apa.” Ucapku sekenanya
            “Bohong, deh! Pasti gara-gara Kak Bagas lagi, kan? Kenapa? Di PHP’in sama dia?” celetuk Cecil.
            “Ih.. kamu apaan sih? Udah nggak usah bahas dia lagi!” ucapku sedikit kesal.
            “Kenapa? Mau Move on ya?” katanya sambil tersenyum jahil.
            “Iyaaaaa, bawelllll!! Udah puasss?????” ucapku benar-benar kesal.

Melupakan kak Bagas ternyata tidak semudah yang aku kira. Terkadang saat aku berusaha mengabaikannya, tiba-tiba ia menghubungiku, dan dengan seketika pertahananku pun runtuh. Aku tidak pernah benar-benar bisa melupakan perasaanku terhadap Kak Bagas. Tentu saja. Karena kami satu sekolah, dan kelas kami hampir berdekatan, hanya perlu melewati 3 kelas untuk sampai ke kelasnya.

            Suatu hari, aku menangis sambil menceritakan keluhanku mengenai kak Bagas pada Cecil, saat ini hanya Cecil yang dapat mengerti aku. Dia tidak henti-hentinya memberi semangat padaku.
            “Udahlah, Kiara, buat apa mikirin dia lagi? Rugi tau nggak! Dia aja nggak pernah mikirin kamu!” ucap Cecil sedikit kesal.
            “Iya sih, Cil. Udah di coba, tapi dianya nggak mau ngilang dari pikiran aku. Gagal move on deh aku.” Ucapku dengan wajah di tekuk.
            “Gini deh, Ki, kamu jalanin aja seperti air yang mengalir. Nggak usah pakek acara move on dan akhirnya malah gagal juga, kan , mending kamu biasain aja gitu. Toh katanya kalo jodoh nggak bakal kemana kan?” kata Cecil berusaha menenangkan ku.
            “Iya.. Tapi paling enggak dia ngerespon perasaan aku, kek, dia kan udah tau kalo aku suka sama dia, tapi dia malah pura-pura nggak tau dan nggak mau tau.” jawabku sekenanya.
            “Aku kasi tau yah, Ki, suatu saat nanti, dia pasti bakal ngerasain apa yang kamu rasain, kok. Ketika kamu udah mulai menjauh dari dia, di situ dia bakal ngerasa kehilangan kamu, dan akhirnya dia bakal sadar kalo dia juga sayang sama kamu. Terkadang, keberadaan seseorang terasa sangat berharga di saat dia pergi. Begitu pula dengan perasaan. Kita akan sadar betapa kita menyayangi seseorang justru di saat orang itu pergi ninggalin kita. Ungkapnya panjang lebar. “Udah ya, Kiara, kamu jangan nangis lagi.” Lanjutnya. Aku hanya menangguk lemas.
Aku yakin, dia pasti tak tahu, betapa sakitnya cinta yang tak terbalas. Namun, dia harus tahu rasanya jauh lebih perih saat hatiku berkeras untuk tetap menunggunya. Menunggu dia yang menganggapku hanya seperti angin lalu. Menanti seseorang yang hanya menganggapku sebatas teman.
Tapi Cecil benar. Mungkin bukan sekarang saatnya. Tapi aku yakin, suatu hari nanti, Kak Bagas akan membuka hatinya untukku. Dan aku akan menunggu hingga hari itu tiba..



                                                                                                                    (Oleh : Kiki Ofia Lestari)

Rabu, 25 September 2013

"Ayah, Sosok Pria Yang Dicinta"



Terimakasih sebelumnya untuk Kak Melin yang sudah mau berbagi cerita dan mengizinkan ceritanya untuk di post di blog saya. Terimakasih, karena dengan cerita ini, tugas Jurnalistik saya bisa terselesaikan. Terimakasih juga untuk teman-teman yang mau meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya ini. Sekali lagi terimakasih banyak. Semoga teman-teman menyukai apa yang saya tulis, Selamat Membaca ^^



                Hal yang paling membahagiakan bagi seorang anak adalah ketika ia bisa melakukan yang terbaik untuk kedua orang tuanya. Air mata Melin tumpah begitu saja mengingat apa yang telah terjadi dalam hidupnya. Ia tetap berusaha membahagiakan mama yang sangat dikasihinya. Serta ayahnya tercinta, meski mereka berada di dua alam yang berbeda.
                Kejadian 4 tahun lalu merupakan pukulan bagi Melin dan seluruh keluarganya. Sang ayah tercinta pergi meninggalkan mereka. Bertepatan dengan hari ulang tahun Melin pada tanggal 17 Mei 2009, sang ayah dilarikan ke rumah sakit karena penyakit jantung dan diabetes yang telah dideritanya selama 7 tahun semakin bertambah parah. Hanya 2 hari di rumah sakit, ayahnya sudah memaksa untuk pulang, bahkan nekat melepas infusnya. Karna khawatir, akhirnya keluarga memutuskan agar sang ayah di rawat di rumah.
Tiga hari dua malam menjalani rawat jalan, keadaan sang ayah justru semakin memburuk. Melin sangat panik sehingga memutuskan untuk memanggil dokter. Ia berharap tidak akan ada hal buruk yang menimpa ayahnya. Begitu dokter datang dan selesai memeriksa keadaan sang ayah, dokter mengabarkan bahwa ayah Melin sudah tidak dapat tertolong lagi. Melin begitu terpukul, ia jatuh terduduk, air matanya menetes membasahi wajahnya yang semakin memerah. Sama seperti Melin, mama dan kedua kakaknya juga merasakan hal yang sama. Mereka belum siap, semuanya seperti tidak nyata. Mereka tak menyangka akan begitu cepat di tinggal oleh ayah tercinta.
Melinda Wardani, anak ke-3 dari 3 bersaudara ini memiliki hubungan yang sangat dekat dengan ayahnya. Kemanapun ayahnya akan pergi, beliau tidak akan lupa mengajak Melin bersamanya. Ayahnya dikenal sebagai orang yang tegas, namun beliau sebenarnya memiliki sifat yang baik dan tidak tegaan. Beliau adalah orang yang sangat disegani oleh keluarga dan teman-temannya, sehingga kepergiannya tentu saja menyisakan luka yang sangat mendalam bagi orang-orang yang ditinggalkannya. Melin mempunyai cita-cita yang tidak mampu ia wujudkan untuk ayahnya, yaitu usaha ternak ikan di kampung halaman. Karena ayahnya pernah berkata bahwa beliau sangat ingin menghabiskan masa tuanya di kampung halaman.
Hari itu, tanggal 23 Mei 2009, tepat 2 hari sebelum hari ulangtahunnya, sang ayah langsung dimakamkan. Beliau menghembuskan nafas terakhir pada pukul 09.00 WIB, dan kemudian dimakamkan sekitar pukul 12.30 WIB. Seluruh keluarga besar Melin menghadiri acara pemakaman tersebut. Suasana haru menyelubungi prosesi pemakaman, semuanya merasa sangat kehilangan sosok yang mereka cintai.
                Sampai sekarang Melin masih sering merindukan ayahnya, ia sempat terpuruk untuk waktu yang cukup lama. Namun, Melin selalu berusaha untuk melihat kedepan. Ia masih memiliki mama yang menyayanginya, ia tidak ingin mengecewakan orang tua satu-satunya yang masih ia miliki. Apalagi saat ini ia hanya tinggal berdua dengan mamanya, karena kedua kakaknya telah menikah dan hidup bersama keluarganya masing-masing. Melin tidak ingin membuat mamanya sedih, Melin hanya ingin membuat mamanya bahagia dan bangga padanya. Ia yakin, dengan begitu ayahnya juga akan merasa bangga dan bahagia, meski kini mereka berada di dua tempat yang berbeda.


Narasumber          : Melinda Wardani
  Pondok Bambu, Jakarta Timur.


(Oleh : Kiki Ofia Lestari)

Selasa, 27 Agustus 2013

Your Eyes My Life


            Aku menatap makam yang ada didepanku. Langit tak henti-hentinya menangis bersamaku. Kejadian-kejadian lalu kembali merasuki pikiranku, seperti adegan film yang diputar ulang.
“Aku janji, aku akan selalu sama kamu, Sa. Menjaga dan memberitahumu bagaimana indahnya dunia yang ku lihat.” Itu yang selalu ia katakan.
            Caca adalah sahabat terbaikku, sahabat yang selalu mengajariku untuk tak pernah menyerah dalam segala hal. Masih teringat bagaimana indahnya persahabatan kita. Tertawa riang penuh canda. Masing-masing dari kami memang memiliki kekurangan, tapi dari situlah kami bisa saling melengkapi.
            Aku dan Caca bersahabat sudah sangat lama, bahkan sebelum tragedi 6 tahun lalu itu mengubah seluruh hidupku. Saat itu, aku dan kakakku mengalami sebuah kecelakaan mobil, hanya aku korban yang selamat, sedangkan kakakku meninggal dalam kecelakaan itu. Dan akibat kecelakaan itu pula, aku kehilangan warna-warna indah dalam hidupku. Semuanya lenyap. Hanya aku dan kegelapan. Aku buta.
            “Sabar ya, Sa. Aku kan sama kamu. Kamu nggak akan pernah sendiri. aku janji.” Ucap Caca berusaha menghiburku.
            “Makasi, Ca. Aku cuma berharap bisa ngelihat lagi. Supaya kita bisa main-main lagi kayak dulu.” Jawabku.
            “Kamu bisa, Sa. Pasti bisa. Cuma nggak sekarang. Kita tunggu aja waktunya.” Tambahnya. Mencoba menghiburku lagi.
            “Kamu jangan tinggalin aku ya, Ca.. janji ya..” pintaku.
            “Iya. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu dalam keadaanmu yang seperti ini. Aku janji.” Ucapnya kemudian memelukku.
           
6 tahun aku hidup di dalam kehidupanku yang kelam, semuanya gelap, tak ada apapun yang bisa kulihat. Aku selalu tampak baik-baik saja didepan Caca dan keluargaku. Tapi, sebenarnya tidak. Aku tidak baik-baik saja. Semuanya tidak semudah itu.
Dalam batin, aku selalu menjerit. Aku menangisi keadaanku yang seperti ini. Aku benci diriku yang berusaha terlihat baik-baik saja. Aku benci ketika hanya bisa berdiam diri di rumah. Aku benci tidak bisa melihat wajahku dicermin. Aku benci. Aku benci semuanya. Aku benci hidupku.
Selama 6 tahun kami berbagi suka-duka, tawa dan tangis. Seperti janjinya, Caca selalu menemaniku. Aku sangat bersyukur, dibalik kekuranganku, Tuhan memberikan sahabat terbaik yang bisa melengkapiku. Caca tak pernah malu memiliki sahabat sepertiku, dan aku sangat terharu akan hal itu. Tapi aku menyadari, tak selamanya Caca akan ada di sampingku. Siap-tidak siap, aku akan kehilangan Caca. Kehilangan sosok sahabat yang selalu bersamaku. Sampai ketika masa-masa sulit itupun menghampiri persahabatan ku dengan Caca. Caca mulai menjerit kesakitan ketika aku bersamanya. Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Caca tak pernah menceritakan apapun tentang penyakitnya. Ketika ku tanya, ia selalu berkata,
“Aku sakit, Ca. tapi aku nggak tau apa penyakitku. Udahlah, itu nggak penting. Yang terpenting adalah, gimana kita bisa menghabiskan sisa waktu ini bersama-sama.” Jadi apa maksudnya? Ia akan meninggalkanku? Kurasa jawabannya adalah “Iya”

Aku mendapat kabar baik, seseorang mendonorkan matanya untukku. Aku tak sabar akan melihat lagi. Melihat dunia, melihat keluargaku dan melihat sahabatku, Caca. Tapi, setelah oprasi pencangkokan mata itu, aku tak pernah melihat Caca lagi. Bahkan sampai 1 minggu setelahnya. Aku kesal, sahabat macam apa dia, aku sudah bisa melihat, tapi bahkan ia tak ada disini bersamaku. Tiba-tiba semuanya jelas. Ketika bunda memberikan sepucuk surat untukku. Sepucuk surat yang bahkan tak akan pernah aku baca ketika waktu dapat kuputar kembali.

Dear, Sasa..
            Hi, Sasa.. gimana perasaannya? Pasti seneng dong.. aku kan udah bilang sama kamu, kamu pasti bisa ngelihat lagi. Dan sekaranglah waktunya.
            Maafin aku ya, Sa, aku nggak bisa selalu nemenin kamu. Maafin aku karena nggak bisa nepatin janjiku. Seandainya aku bisa, aku nggak mau sakit kayak gini, Sa. Sakit yang bikin aku pisah sama sahabatku..
            Kamu selalu tanya aku sakit apa, kurasa sekarang saatnya kamu tau. 5 tahun yang lalu aku divonis kena Kanker Tulang Belakang tahap 4, dokter mendiagnosis aku cuma bisa bertahan hidup selama 2 tahun. Tapi ternyata keajaiban datang. Aku bisa bertahan sampe 6 tahun kedepan karena kamu, sahabatku.. Aku nggak cerita sama kamu karena aku nggak mau liat kamu khawatir.
            Sasa, aku sakit menahan penyakit ini, tapi aku senang kamu selalu ada bersamaku. Lihatlah dunia, temukan cintamu, dan gapailah impianmu. Aku akan selalu sama kamu lewat mataku, aku akan berada disampingmu dengan hatimu.
            Jangan menyerah ya, Sa. Persahabatan ini aku bawa sampai mati. Aku takakan melupakanmu. Sampai bertemu di dimensi berikutnya sahabatku. Aku menyayangimu, selalu.
Sahabatmu,
Caca    

            Setelah membaca surat itu, aku tidak henti-hentinya menangis. Caca… kenapa ini semua harus terjadi sama kamu? Sama persahabatan kita? Kamu pergi dan tak kembali. Sebegitu ganasnyakah kanker itu? Kenapa itu bisa membuatmu meninggalkanku? Kamu sahabat terbaikku, Ca. Dan kamu pergi disaat aku sudah mulai bisa melihat dunia.
            Ya, kamu, Caca. Kamu memberitahuku sungguh betapa indahnya dunia ini. Kamu menunjukkan kepadaku bahwa banyak yang masih bisa kulihat dari hidupku ini. Bertahun-tahun terjebak dalam kegelapan, tapi aku selalu mencoba untuk tetap kuat. Ya, karena aku memilikimu sahabatku.
Penyakit ganas itu telah merenggut sisa waktumu, merenggut hidupmu, bahkan merenggut persahabatan kita. Aku terjebak dalam dunia yang gelap, tapi kamu lebih tersiksa dalam rasa sakit akibat penyakit ganas itu. Kanker itu yang menyebabkanmu meninggalkanku. Itu yang menyebabkanku tidak bisa melihatmu lagi, menatapmu, tertawa bersamamu, dan menceritakan kisah sedih denganmu.
Aku tahu, kamu nggak benar-benar pergi. Kamu ada bersamaku, kamu yang telah memberikan dunia baru ini kepadaku. Dunia yang begitu indah. Aku akan selalu menjaga mata ini dan melihat apa yang pernah kamu lihat, Ca. Aku juga menyayangimu, Ca, selalu.

(Oleh : Kiki Linda)