Kamis, 10 Oktober 2013

“Someday you’ll be mine”

“Dia pasti tak tahu, betapa sakitnya cinta yang tak terbalas. Namun, dia harus tahu rasanya jauh lebih perih saat hatiku berkeras untuk tetap menunggunya. Menunggu dia yang menganggapku hanya seperti angin lalu..”

            Aku berusaha memposisikan diriku senyaman mungkin di sekolah ini, karena ini merupakan hari pertama aku menginjak bangku SMA setelah 1 minggu menjalani MOS (Masa Orientasi Siswa). Tak banyak teman yang ku kenal di kelas ini, tetapi beberapa di antaranya adalah teman SMP ku.
Aku masih teringat kejadian-kejadian lucu di kala MOS, teguran kakak-kakak panitia, dan sesekali tersenyum mengingat kesalahan yang pernah ku lakukan saat itu. Memutar kejadian itu membuatku teringat pada salah seorang kakak panitia, menurutku dia panitia yang paling baik. Dia mampu mengalihkan perhatianku setiap kali aku melihatnya.
“Hay, nama kamu siapa?” ucap teman sebangkuku  membuyarkan lamunanku.
            “Hay, aku Kiara. Kamu?” tanyaku balik.
            “Aku Cecil, salam kenal ya.” Jawabnya dengan ramah.
Setelah beberapa minggu akhirnya aku berhasil menyesuaikan diri, aku sudah mulai bisa bergaul dengan teman-teman, beberapa di antara kami menceritakan kehidupan kami masing-masing.

            Berawal dari twitter aku mencoba menyapa Kak Bagas, hingga pada akhirnya kami bertukar nomor Handphone. Awalnya kami hanya sering bercanda karena dia memang orang yang lucu, terkadang ia juga menyapaku saat kami bertemu di sekolah. lamat laun kami semakin akrab dan hingga akhirnya ia mengetahui bahwa aku menyukainya.
            Aku menceritakan kedekatanku dengan Kak Bagas pada sahabat baruku, Cecil, ia terlihat antusias dan sangat mendukungku. Baginya melihatku senang, itu juga dapat membuatnya senang. Sayangnya aku tidak berani terlalu berharap pada Kak Bagas, aku takut jika akhirnya aku akan menerima kekecewaan.
            “Cil, tau nggak, aku mulai deket, loh, sama Kak Bagas.” Ucapku sambil tersenyum senang.
            “Serius?? Ciee.. seneng tuh.. gak lama lagi bakal ada kemajuan nih kamu!” ia memberikan dukungan.
            “Iya, serius! Duh.. tapi aku gak yakin deh ya.. nggak usah terlalu ngarep dulu, lah, nanti kalo gak sesuai harapan, bakal nyesek.” Kataku mulai pesimis.
            “Ya, tapi kan harus tetep semangat, Kiara.. Semangat ya, Ki!” ucapnya sembari tersenyum padaku.

            Setelah beberapa bulan berlalu, hubunganku dengan Kak Bagas tidak seakrab dulu. Sebenarnya aku sangat sedih, pada awalnya aku mengira hubungan kami akan semakin dekat seiring berjalannya waktu.
            Aku pun mulai menyadari bahwa kak Bagas tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Selama ini ternyata hanya aku yang terlalu berharap. Aku memutuskan untuk mengubur perasaanku padanya. Aku merasa lelah, menyukai orang yang selama ini selalu mengabaikanku.
            “Kamu kenapa, Ki? Akhir-akhir ini aku sering ngelihat kamu murung? Aku jadi khawatir.” tanya Cecil mengkhawatirkanku.
            “Nggak kok, Cil. Aku nggak apa-apa.” Ucapku sekenanya
            “Bohong, deh! Pasti gara-gara Kak Bagas lagi, kan? Kenapa? Di PHP’in sama dia?” celetuk Cecil.
            “Ih.. kamu apaan sih? Udah nggak usah bahas dia lagi!” ucapku sedikit kesal.
            “Kenapa? Mau Move on ya?” katanya sambil tersenyum jahil.
            “Iyaaaaa, bawelllll!! Udah puasss?????” ucapku benar-benar kesal.

Melupakan kak Bagas ternyata tidak semudah yang aku kira. Terkadang saat aku berusaha mengabaikannya, tiba-tiba ia menghubungiku, dan dengan seketika pertahananku pun runtuh. Aku tidak pernah benar-benar bisa melupakan perasaanku terhadap Kak Bagas. Tentu saja. Karena kami satu sekolah, dan kelas kami hampir berdekatan, hanya perlu melewati 3 kelas untuk sampai ke kelasnya.

            Suatu hari, aku menangis sambil menceritakan keluhanku mengenai kak Bagas pada Cecil, saat ini hanya Cecil yang dapat mengerti aku. Dia tidak henti-hentinya memberi semangat padaku.
            “Udahlah, Kiara, buat apa mikirin dia lagi? Rugi tau nggak! Dia aja nggak pernah mikirin kamu!” ucap Cecil sedikit kesal.
            “Iya sih, Cil. Udah di coba, tapi dianya nggak mau ngilang dari pikiran aku. Gagal move on deh aku.” Ucapku dengan wajah di tekuk.
            “Gini deh, Ki, kamu jalanin aja seperti air yang mengalir. Nggak usah pakek acara move on dan akhirnya malah gagal juga, kan , mending kamu biasain aja gitu. Toh katanya kalo jodoh nggak bakal kemana kan?” kata Cecil berusaha menenangkan ku.
            “Iya.. Tapi paling enggak dia ngerespon perasaan aku, kek, dia kan udah tau kalo aku suka sama dia, tapi dia malah pura-pura nggak tau dan nggak mau tau.” jawabku sekenanya.
            “Aku kasi tau yah, Ki, suatu saat nanti, dia pasti bakal ngerasain apa yang kamu rasain, kok. Ketika kamu udah mulai menjauh dari dia, di situ dia bakal ngerasa kehilangan kamu, dan akhirnya dia bakal sadar kalo dia juga sayang sama kamu. Terkadang, keberadaan seseorang terasa sangat berharga di saat dia pergi. Begitu pula dengan perasaan. Kita akan sadar betapa kita menyayangi seseorang justru di saat orang itu pergi ninggalin kita. Ungkapnya panjang lebar. “Udah ya, Kiara, kamu jangan nangis lagi.” Lanjutnya. Aku hanya menangguk lemas.
Aku yakin, dia pasti tak tahu, betapa sakitnya cinta yang tak terbalas. Namun, dia harus tahu rasanya jauh lebih perih saat hatiku berkeras untuk tetap menunggunya. Menunggu dia yang menganggapku hanya seperti angin lalu. Menanti seseorang yang hanya menganggapku sebatas teman.
Tapi Cecil benar. Mungkin bukan sekarang saatnya. Tapi aku yakin, suatu hari nanti, Kak Bagas akan membuka hatinya untukku. Dan aku akan menunggu hingga hari itu tiba..



                                                                                                                    (Oleh : Kiki Ofia Lestari)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar