“Dia pasti tak tahu, betapa
sakitnya cinta yang tak terbalas. Namun, dia harus tahu rasanya jauh lebih
perih saat hatiku berkeras untuk tetap menunggunya. Menunggu dia yang
menganggapku hanya seperti angin lalu..”
Aku berusaha memposisikan diriku
senyaman mungkin di sekolah ini, karena ini merupakan hari pertama aku
menginjak bangku SMA setelah 1 minggu menjalani MOS (Masa Orientasi Siswa). Tak
banyak teman yang ku kenal di kelas ini, tetapi beberapa di antaranya adalah
teman SMP ku.
Aku
masih teringat kejadian-kejadian lucu di kala MOS, teguran kakak-kakak panitia,
dan sesekali tersenyum mengingat kesalahan yang pernah ku lakukan saat itu.
Memutar kejadian itu membuatku teringat pada salah seorang kakak panitia,
menurutku dia panitia yang paling baik. Dia mampu mengalihkan perhatianku
setiap kali aku melihatnya.
“Hay, nama kamu siapa?” ucap teman sebangkuku membuyarkan lamunanku.
“Hay,
aku Kiara. Kamu?” tanyaku balik.
“Aku
Cecil, salam kenal ya.” Jawabnya dengan ramah.
Setelah
beberapa minggu akhirnya aku berhasil menyesuaikan diri, aku sudah mulai bisa
bergaul dengan teman-teman, beberapa di antara kami menceritakan kehidupan kami
masing-masing.
Berawal dari twitter aku mencoba
menyapa Kak Bagas, hingga pada akhirnya kami bertukar nomor Handphone. Awalnya
kami hanya sering bercanda karena dia memang orang yang lucu, terkadang ia juga
menyapaku saat kami bertemu di sekolah. lamat laun kami semakin akrab dan
hingga akhirnya ia mengetahui bahwa aku menyukainya.
Aku menceritakan kedekatanku dengan
Kak Bagas pada sahabat baruku, Cecil, ia terlihat antusias dan sangat
mendukungku. Baginya melihatku senang, itu juga dapat membuatnya senang.
Sayangnya aku tidak berani terlalu berharap pada Kak Bagas, aku takut jika
akhirnya aku akan menerima kekecewaan.
“Cil,
tau nggak, aku mulai deket, loh, sama Kak Bagas.” Ucapku sambil tersenyum
senang.
“Serius??
Ciee.. seneng tuh.. gak lama lagi bakal ada kemajuan nih kamu!” ia
memberikan dukungan.
“Iya,
serius! Duh.. tapi aku gak yakin deh ya.. nggak usah terlalu ngarep dulu, lah,
nanti kalo gak sesuai harapan, bakal nyesek.” Kataku mulai pesimis.
“Ya,
tapi kan harus tetep semangat, Kiara.. Semangat ya, Ki!” ucapnya sembari
tersenyum padaku.
Setelah beberapa bulan berlalu,
hubunganku dengan Kak Bagas tidak seakrab dulu. Sebenarnya aku sangat sedih,
pada awalnya aku mengira hubungan kami akan semakin dekat seiring berjalannya
waktu.
Aku pun mulai menyadari bahwa kak
Bagas tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Selama ini ternyata hanya aku
yang terlalu berharap. Aku memutuskan untuk mengubur perasaanku padanya. Aku
merasa lelah, menyukai orang yang selama ini selalu mengabaikanku.
“Kamu
kenapa, Ki? Akhir-akhir ini aku sering ngelihat kamu murung? Aku jadi
khawatir.” tanya Cecil mengkhawatirkanku.
“Nggak
kok, Cil. Aku nggak apa-apa.” Ucapku sekenanya
“Bohong,
deh! Pasti gara-gara Kak Bagas lagi, kan? Kenapa? Di PHP’in sama dia?”
celetuk Cecil.
“Ih..
kamu apaan sih? Udah nggak usah bahas dia lagi!” ucapku sedikit kesal.
“Kenapa?
Mau Move on ya?” katanya sambil tersenyum jahil.
“Iyaaaaa,
bawelllll!! Udah puasss?????” ucapku benar-benar kesal.
Melupakan
kak Bagas ternyata tidak semudah yang aku kira. Terkadang saat aku berusaha
mengabaikannya, tiba-tiba ia menghubungiku, dan dengan seketika pertahananku
pun runtuh. Aku tidak pernah benar-benar bisa melupakan perasaanku terhadap Kak
Bagas. Tentu saja. Karena kami satu sekolah, dan kelas kami hampir berdekatan,
hanya perlu melewati 3 kelas untuk sampai ke kelasnya.
Suatu hari, aku menangis sambil
menceritakan keluhanku mengenai kak Bagas pada Cecil, saat ini hanya Cecil yang
dapat mengerti aku. Dia tidak henti-hentinya memberi semangat padaku.
“Udahlah,
Kiara, buat apa mikirin dia lagi? Rugi tau nggak! Dia aja nggak pernah mikirin
kamu!” ucap Cecil sedikit kesal.
“Iya
sih, Cil. Udah di coba, tapi dianya nggak mau ngilang dari pikiran aku. Gagal
move on deh aku.” Ucapku dengan wajah di tekuk.
“Gini
deh, Ki, kamu jalanin aja seperti air yang mengalir. Nggak usah pakek acara
move on dan akhirnya malah gagal juga, kan , mending kamu biasain aja gitu. Toh
katanya kalo jodoh nggak bakal kemana kan?” kata Cecil berusaha menenangkan
ku.
“Iya..
Tapi paling enggak dia ngerespon perasaan aku, kek, dia kan udah tau kalo aku
suka sama dia, tapi dia malah pura-pura nggak tau dan nggak mau tau.”
jawabku sekenanya.
“Aku
kasi tau yah, Ki, suatu saat nanti, dia pasti bakal ngerasain apa yang kamu
rasain, kok. Ketika kamu udah mulai menjauh dari dia, di situ dia bakal ngerasa
kehilangan kamu, dan akhirnya dia bakal sadar kalo dia juga sayang sama kamu. Terkadang, keberadaan seseorang terasa
sangat berharga di saat dia pergi. Begitu pula dengan perasaan. Kita akan sadar
betapa kita menyayangi seseorang justru di saat orang itu pergi ninggalin kita.”
Ungkapnya panjang lebar. “Udah ya, Kiara,
kamu jangan nangis lagi.” Lanjutnya. Aku hanya menangguk lemas.
Aku
yakin, dia pasti tak tahu, betapa sakitnya cinta yang tak terbalas. Namun, dia
harus tahu rasanya jauh lebih perih saat hatiku berkeras untuk tetap menunggunya.
Menunggu dia yang menganggapku hanya seperti angin lalu. Menanti seseorang yang
hanya menganggapku sebatas teman.
Tapi
Cecil benar. Mungkin bukan sekarang saatnya. Tapi aku yakin, suatu hari nanti,
Kak Bagas akan membuka hatinya untukku. Dan aku akan menunggu hingga hari itu
tiba..
(Oleh : Kiki Ofia Lestari)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar