“Masa-masa
muda yang indah hanya akan terjadi sekali seumur hidupmu. Jadi, jangan sia-siakan
masa mudamu, sesal kemudian tak akan pernah berarti..”
~Kiki
Ofia
Aku mengangkat panggilan dari seseorang yang namanya tertera
di layar HP-ku.
“Halo,
Sheril? Ada apa?”
“Nay, aku
tidak masuk sekolah hari ini, keadaanku sedang tidak baik. Tolong mintakan
izin. Bye. *tutttutttutt*”
Belum sempat aku menjawabnya, telepon di seberang sudah
di matikan. Sheril banyak berubah, ia sering membolos, padahal dulu ia adalah anak
yang rajin dan berprestasi, namun semuanya berubah semenjak pertemanannya
dengan Khanza.
Beberapa bulan terakhir Sheril sering membolos, aku yang
mengkhawatirkannya memutuskan untuk berkunjung ke tempat kost-nya. Aku terkejut
melihat kamar kost sheril yang berantakan, putung rokok berserakan di
mana-mana, aroma keras alcohol begitu tercium, seolah-olah baru saja di adakan
pesta mabuk-mabukan. Sheril terlihat begitu pucat dan kurus, lingkaran hitam di
matanya jelas menunjukkan bahwa ia melewati malam tanpa tertidur.
“Sheril, apa
kamu baik-baik saja?” tanya ku mengkhawatirkannya.
“heeemm…”
Sheril hanya mengangguk. Ia tidak begitu menghiraukan perkataanku.
“Kenapa kamu
tidak pernah sekolah? Kamu banyak berubah semenjak bergaul dengan Khanza. Dia
tidak baik untukmu. Segeralah masuk sekolah, kamu sudah tertinggal banyak
pelajaran.”
“Naya,
bisakah kamu tidak mencampuri urusanku? Aku sekolah atau tidak itu bukan
urusanmu. Dan Khanza? Berteman dengannya lebih menyenangkan, tidak seperti kamu
yang membosankan! Sekarang pulanglah dan urus dirimu sendiri!” Sheril
membanting pintu kamar kost-nya. Aku tak menyangka sahabatku sendiri tega
memperlakukanku seperti itu.
Pernyataan
Sheril minggu lalu benar-benar menyakiti perasaanku. Aku tak pernah
menghubunginya lagi semenjak kejadian itu. Ketika kami bertemu di sekolahpun
aku tak pernah menghiraukannya meskipun sesekali ia mencoba tersenyum padaku.
Aku selalu saja mengabaikannya, begitupula dengan teman-teman yang lain.
Aku menyadari
ada yang lain dari Sheril beberapa hari terakhir. Ia terlihat begitu pucat,
semakin hari ia juga terlihat semakin kurus. Aku jarang melihatnya bersama
Khanza, bahkan seolah-olah Khanza seperti memusuhi Sheril. Tapi meskipun tak
pernah bersama Khanza lagi, Sheril tetap jarang masuk sekolah. Aku cukup
khawatir dengan keadaannya, ya itulah Sheril, tak pernah berhenti membuat orang
lain khawatir. Ya, Tuhan, Sheril kamu di mana? Aku sangat mengkhawatirkanmu,
sahabatku……
Aku
mengambil HP-ku yang sejak tadi terus bergetar, 11 panggilan tidak terjawab dan
1 pesan dari Sheril.
“Naya, maafkan perkataan ku beberapa minggu
yang lalu. Aku menyesal, Naya. Kamu benar, Khanza bukanlah teman yang baik
untukku. Ia meninggalkanku di saat aku benar-benar terpuruk. Naya, kumohon..
aku membutuhkanmu, hanya kamu sahabat yang saat ini aku miliki..”
Aku bergegas
pergi ke tempat kost Sheril, aku harus memastikan bahwa ia baik-baik saja. Aku
terkejut mendapati Sheril terduduk sambil menangis, keadaannya benar-benar
tidak sedang baik.
“Sheril, apa
yang terjadi? Aku mengkhawatirkanmu.”
“Naya,
maafkan perkataanku beberapa minggu yang lalu. Kamu benar, Khanza bukanlah
teman yang baik untukku, ia menjauhiku setelah mengetahui keadaanku saat ini.
Aku menyesal Naya, aku sungguh menyesal, maafkan aku.” Sheril menangis sambil
memelukku.
“Memangnya
apa yang terjadi padamu Sheril? Mengapa ia menjauhimu? Cepat katakan padaku!”
aku terus mendesaknya. Ia tidak menjawab perkataanku. Sheril hanya menyodorkan
secarik kertas.
Aku tersentak setelah membaca tulisan di kertas yang di
berikan Sheril padaku. Sheril tak berhenti menangis, sedangkan aku hanya duduk
terdiam di tempatku. Aku benar-benar terkejut, mengetahui bahwa Sheril di vonis
terkena HIV/AIDS oleh dokter, bahkan aku nyaris tak percaya bahwa hal ini
terjadi pada sahabatku.
Semenjak orang tuanya meninggal beberapa tahun yang lalu,
hanya aku yang dimiliki oleh Sheril. Aku satu-satunya orang terdekatnya. Aku
berusaha menghibur dan menemaninya. Tak perduli HIV/AIDS telah menghancurkan
hidupnya, tak peduli seberapapun buruknya pandangan orang terhadapnya,
bagaimanapun itu tak akan pernah merubah bahwa Sheril adalah sahabatku yang
tercinta.
Beberapa hari terakhir Sheril tak menghubungiku, bahkan
ia mulai membolos sekolah lagi, aku disibukkan dengan berbagai tugas sekolah
sehingga tidak dapat selalu menemaninya.
HP-ku terus bergetar, buru-buru aku mengangkatnya setelah
menyadari itu adalah telepon dari Sheril.
“Halo, Sheril?”
“Naya……” suaranya terdengar begitu pelan, dan aku
menyadari bahwa ia sedang menangis.
“Ada apa, Sheril? Apa kamu baik-baik saja?” tanyaku
mencemaskan keadaannya.
“Nay, makasih ya, selama ini kamu mau jadi sahabat
terbaikku. Terimakasih kamu masih mau menemaniku bahkan di hari-hari
terburukku. Terimakasih atas kepedulianmu, dan terimakasih atas seluruh cinta
yang kamu berikan untukku, terimakasih untuk semuaya, Naya. Kau adalah sahabat
terbaik sepanjang hidupku. Jaga dirimu, aku berharap apa yang terjadi padaku
tak akan pernah terjadi padamu. Aku menyayangimu sampai kapanpun. *tutttutttutt*”
Jujur aku
tak mengerti apa yang dikatakan oleh Sheril, berkali-kali aku mencoba
menghubunginya lagi, namun HP-nya tidak bisa di hubungi.
Perkataan Sheril kemarin membuatku tak tenang. Sehingga
ku putuskan untuk mengunjungi tempat kost-nya. Aku terkejut melihat kerumunan
orang di depan kamar kost Sheril. Aku bertanya pada salah satu dari sekian
orang yang berkerumun di sana, dan ku sadari air mataku mulai menetes.
Sejak semalam aku tak berhenti menangis, aku tak
menyangka akan kehilangan sahabat yang sangat ku cintai. HIV/AIDS telah
merenggut nyawa Sheril, Sheril seorang gadis yang ku kenal sangat periang. Aku
benar-benar merasa kehilangannya. Aku menyadari HIV/AIDS dapat menyerang
siapapun. Siapapun termasuk sahabatku, Sheril. Dan kini dia tak akan bisa
bersama ku lagi, bersama untuk bercanda dan menangis, bersama untuk sama-sama
melewati kerasnya hidup, bersama-sama untuk menikmati indahnya dunia, dan
bersama-sama untuk mencapai masa depan. Kini semuanya usai, usai seiring
terkuburnya semua cita-cita Sheril. Ya, cita-cita Sheril, bukan cita-citaku.
Aku akan berusaha menggapai cita-cita ku, cita-cita yang selama ini ku capai
bersama Sheril, dan aku akan mencapainya, meski tak bersama Sheril. Aku yakin,
aku yakin aku bisa. Semuanya, demi Sheril, demi cita-cita, dan demi
persahabatan kita.
(Oleh
: Kiki Ofia Lestari)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar