Kamis, 10 Oktober 2013

HIV/AIDS Has Killed My Best Friend


“Masa-masa muda yang indah hanya akan terjadi sekali seumur hidupmu. Jadi, jangan sia-siakan masa mudamu, sesal kemudian tak akan pernah berarti..”
~Kiki Ofia

            Aku mengangkat panggilan dari seseorang yang namanya tertera di layar HP-ku.
“Halo, Sheril? Ada apa?”
“Nay, aku tidak masuk sekolah hari ini, keadaanku sedang tidak baik. Tolong mintakan izin. Bye. *tutttutttutt*”
            Belum sempat aku menjawabnya, telepon di seberang sudah di matikan. Sheril banyak berubah, ia sering membolos, padahal dulu ia adalah anak yang rajin dan berprestasi, namun semuanya berubah semenjak pertemanannya dengan Khanza.

            Beberapa bulan terakhir Sheril sering membolos, aku yang mengkhawatirkannya memutuskan untuk berkunjung ke tempat kost-nya. Aku terkejut melihat kamar kost sheril yang berantakan, putung rokok berserakan di mana-mana, aroma keras alcohol begitu tercium, seolah-olah baru saja di adakan pesta mabuk-mabukan. Sheril terlihat begitu pucat dan kurus, lingkaran hitam di matanya jelas menunjukkan bahwa ia melewati malam tanpa tertidur.
“Sheril, apa kamu baik-baik saja?” tanya ku mengkhawatirkannya.
“heeemm…” Sheril hanya mengangguk. Ia tidak begitu menghiraukan perkataanku.
“Kenapa kamu tidak pernah sekolah? Kamu banyak berubah semenjak bergaul dengan Khanza. Dia tidak baik untukmu. Segeralah masuk sekolah, kamu sudah tertinggal banyak pelajaran.”
“Naya, bisakah kamu tidak mencampuri urusanku? Aku sekolah atau tidak itu bukan urusanmu. Dan Khanza? Berteman dengannya lebih menyenangkan, tidak seperti kamu yang membosankan! Sekarang pulanglah dan urus dirimu sendiri!” Sheril membanting pintu kamar kost-nya. Aku tak menyangka sahabatku sendiri tega memperlakukanku seperti itu.

Pernyataan Sheril minggu lalu benar-benar menyakiti perasaanku. Aku tak pernah menghubunginya lagi semenjak kejadian itu. Ketika kami bertemu di sekolahpun aku tak pernah menghiraukannya meskipun sesekali ia mencoba tersenyum padaku. Aku selalu saja mengabaikannya, begitupula dengan teman-teman yang lain.

Aku menyadari ada yang lain dari Sheril beberapa hari terakhir. Ia terlihat begitu pucat, semakin hari ia juga terlihat semakin kurus. Aku jarang melihatnya bersama Khanza, bahkan seolah-olah Khanza seperti memusuhi Sheril. Tapi meskipun tak pernah bersama Khanza lagi, Sheril tetap jarang masuk sekolah. Aku cukup khawatir dengan keadaannya, ya itulah Sheril, tak pernah berhenti membuat orang lain khawatir. Ya, Tuhan, Sheril kamu di mana? Aku sangat mengkhawatirkanmu, sahabatku……

Aku mengambil HP-ku yang sejak tadi terus bergetar, 11 panggilan tidak terjawab dan 1 pesan dari Sheril.
“Naya, maafkan perkataan ku beberapa minggu yang lalu. Aku menyesal, Naya. Kamu benar, Khanza bukanlah teman yang baik untukku. Ia meninggalkanku di saat aku benar-benar terpuruk. Naya, kumohon.. aku membutuhkanmu, hanya kamu sahabat yang saat ini aku miliki..”

Aku bergegas pergi ke tempat kost Sheril, aku harus memastikan bahwa ia baik-baik saja. Aku terkejut mendapati Sheril terduduk sambil menangis, keadaannya benar-benar tidak sedang baik.
“Sheril, apa yang terjadi? Aku mengkhawatirkanmu.”
“Naya, maafkan perkataanku beberapa minggu yang lalu. Kamu benar, Khanza bukanlah teman yang baik untukku, ia menjauhiku setelah mengetahui keadaanku saat ini. Aku menyesal Naya, aku sungguh menyesal, maafkan aku.” Sheril menangis sambil memelukku.
“Memangnya apa yang terjadi padamu Sheril? Mengapa ia menjauhimu? Cepat katakan padaku!” aku terus mendesaknya. Ia tidak menjawab perkataanku. Sheril hanya menyodorkan secarik kertas.

            Aku tersentak setelah membaca tulisan di kertas yang di berikan Sheril padaku. Sheril tak berhenti menangis, sedangkan aku hanya duduk terdiam di tempatku. Aku benar-benar terkejut, mengetahui bahwa Sheril di vonis terkena HIV/AIDS oleh dokter, bahkan aku nyaris tak percaya bahwa hal ini terjadi pada sahabatku.

            Semenjak orang tuanya meninggal beberapa tahun yang lalu, hanya aku yang dimiliki oleh Sheril. Aku satu-satunya orang terdekatnya. Aku berusaha menghibur dan menemaninya. Tak perduli HIV/AIDS telah menghancurkan hidupnya, tak peduli seberapapun buruknya pandangan orang terhadapnya, bagaimanapun itu tak akan pernah merubah bahwa Sheril adalah sahabatku yang tercinta.

            Beberapa hari terakhir Sheril tak menghubungiku, bahkan ia mulai membolos sekolah lagi, aku disibukkan dengan berbagai tugas sekolah sehingga tidak dapat selalu menemaninya.

            HP-ku terus bergetar, buru-buru aku mengangkatnya setelah menyadari itu adalah telepon dari Sheril.
            “Halo, Sheril?”
            “Naya……” suaranya terdengar begitu pelan, dan aku menyadari bahwa ia sedang menangis.
            “Ada apa, Sheril? Apa kamu baik-baik saja?” tanyaku mencemaskan keadaannya.
            “Nay, makasih ya, selama ini kamu mau jadi sahabat terbaikku. Terimakasih kamu masih mau menemaniku bahkan di hari-hari terburukku. Terimakasih atas kepedulianmu, dan terimakasih atas seluruh cinta yang kamu berikan untukku, terimakasih untuk semuaya, Naya. Kau adalah sahabat terbaik sepanjang hidupku. Jaga dirimu, aku berharap apa yang terjadi padaku tak akan pernah terjadi padamu. Aku menyayangimu sampai kapanpun. *tutttutttutt*”
Jujur aku tak mengerti apa yang dikatakan oleh Sheril, berkali-kali aku mencoba menghubunginya lagi, namun HP-nya tidak bisa di hubungi.

            Perkataan Sheril kemarin membuatku tak tenang. Sehingga ku putuskan untuk mengunjungi tempat kost-nya. Aku terkejut melihat kerumunan orang di depan kamar kost Sheril. Aku bertanya pada salah satu dari sekian orang yang berkerumun di sana, dan ku sadari air mataku mulai menetes.

            Sejak semalam aku tak berhenti menangis, aku tak menyangka akan kehilangan sahabat yang sangat ku cintai. HIV/AIDS telah merenggut nyawa Sheril, Sheril seorang gadis yang ku kenal sangat periang. Aku benar-benar merasa kehilangannya. Aku menyadari HIV/AIDS dapat menyerang siapapun. Siapapun termasuk sahabatku, Sheril. Dan kini dia tak akan bisa bersama ku lagi, bersama untuk bercanda dan menangis, bersama untuk sama-sama melewati kerasnya hidup, bersama-sama untuk menikmati indahnya dunia, dan bersama-sama untuk mencapai masa depan. Kini semuanya usai, usai seiring terkuburnya semua cita-cita Sheril. Ya, cita-cita Sheril, bukan cita-citaku. Aku akan berusaha menggapai cita-cita ku, cita-cita yang selama ini ku capai bersama Sheril, dan aku akan mencapainya, meski tak bersama Sheril. Aku yakin, aku yakin aku bisa. Semuanya, demi Sheril, demi cita-cita, dan demi persahabatan kita.

(Oleh : Kiki Ofia Lestari)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar