“If
you love me, let me know. If not, please let me go”
—ANONYMOUS —
Dia tak pernah tau bagaimana rasanya
menjadi aku, menjadi orang yang selalu menunggunya, menunggu untuk cintanya.
Cinta yang selalu ia berikan kepada laki-laki lain, laki-laki yang bukan aku.
Senyumnya. Senyum itu yang mampu
membuat hatiku terpaut padanya, sejak pertemuan kami hari itu, aku tidak pernah
bisa berhenti memikirkannya. Aku mulai yakin, ialah gadis yang selama ini aku
cari, gadis yang selama ini menjadi impianku. Dan kini dapat kurasakan ia tak
akan lagi menjadi mimpi, ia telah menjelma menjadi sebuah kenyataan manis yang
harus ku kejar dan aku dapatkan. Ya, dia harus bisa aku dapatkan.
Hasratku sudah tak terbendung lagi
untuk menjadikannya sang kekasih hati. Aku berpikir ialah yang terbaik, terbaik
untuk menjadi pendampingku saat ini. Aku tak pernah lelah dan menyerah untuk
mencari tau segala hal tentangnya. Aku tak peduli pada perbedaan usia kami. Aku
menyayanginya, itu yang terpenting. Tapi, tak pernah aku sangka sebelumnya, bahwa
aku harus menerima kenyataan pahit itu. Sang gadis pujaan hati yang selama ini
aku impikan telah memiliki kekasih. Mendengar hal itu saja sudah membuat hatiku
merasa teriris, apalagi setelah menghadapi kenyataan bahwa lelaki beruntung itu
adalah adik sepupuku sendiri. Bisakah kalian bayangkan seberapa sakitnya hatiku
menerima kenyataan itu?
Aku terdiam. Tak ada yang tahu
seberapa sakitnya hatiku saat itu. Aku menyimpan rasa perih itu sendirian, aku
tak akan pernah membaginya. Tidak untuk adik sepupuku, bahkan tidak untuk gadis
itu. Aku tak ingin ada yang ikut bersedih bersamaku, aku tak ingin mereka
mengasihani aku, aku tak ingin merusak kebahagiaan mereka. Biarkan aku sendiri
yang merasakan sakitnya, asalkan gadis yang kusayangi bahagia. Meskipun
sebenarnya aku sangat menyadari kebahagian yang ia rasakan bukanlah karena
diriku. Tak masalah buatku. Akan kusimpan perasaan ini untuk beberapa saat, dan
nanti ketika waktunya telah tiba, aku akan mengungkapkannya, aku yang akan maju
dan memberikan beribu kebahagiaan untuknya. Ya, untuk gadisku. Gadis yang saat
ini kembali menjadi angan dan impianku.
***
Akhirnya masa-masa penantian itu
telah usai, ia dan adikku sudah tak terikat hubungan apapun. Aku cukup merasa
sedih mengingat ia adalah mantan kekasih sepupuku sendiri, tapi aku tak dapat
menyangkal bahwa hatiku benar-benar merasa bahagia. Aku senang, akhirnya dapat
memiliki kesempatan untuk mengutarakan perasaanku padanya. Saat yang aku tunggu
telah tiba. Kini aku kembali, dan waktunya untuk beraksi.
Aku dan gadis itu mulai menjalin
hubungan pertemanan. Aku sangat senang, ini merupakan awal yang baik bagi
hubungan kami. Lamat laun aku dan dia semakin akrab. Terkadang aku sempat
merasakan ia memiliki perasaan yang sama. Entah itu memang kenyataan atau hanya
harapanku saja. Aku menyingkirkan segala pikiran negatif yang menyerangku, aku
harus selalu berpikir positif jika ingin mendapatkan apa yang aku inginkan.
Gadis itu, dengan segala tingkah
lakunya yang sopan, tutur katanya yang lembut, dan senyumnya yang manis serta
tawanya yang menggemaskan membuat aku semakin mengaguminya. Melupakannya begitu
sulit, kurasa aku benar-benar telah menggilainya. Ia memberikan warna baru
dalam hidupku. Aku tak henti-hentinya memohon pada tuhan agar kelak ia bisa
menjadi milikku. Ia harus tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya
terhadapnya. Ya, harus. Segera.
***
Saat yang ku tunggu-tunggu akhirnya
tiba. Hari ini kuputuskan untuk mengungkapkan seluruh isi hatiku padanya.
Perasaan yang selama ini selalu ku pendam, perasaan yang begitu sulit untuk
kuungkapkan, perasaan sayang yang begitu dalam untuknya. Ya, ini waktunya. Aku
tak akan mengulurnya lebih lama lagi. Saat ini juga akan kuungkapkan, tak ada
yang akan kututupi lagi. Tak ada lagi diriku yang hanya terus menunggu
ketidakpastian. Ini aku, dan ini keputusan yang aku ambil. Saatnya maju untuk
menggapai semua yang kuimpikan.
Aku mulai resah, jantungku berdegup
lebih cepat dari yang sebelumnya. Namun, ia tak juga menghubungiku, bahkan
membalas pesan singkat dari akupun tidak. Seketika harapanku mulai runtuh
begitu saja. Ada yang salah dari semua ini, sesuatu telah terjadi. Entah apa
itu, yang jelas aku merasa apa yang telah kulakukan kembali sia-sia. Jadi, apa
maksudnya ini? Ia menolakku? Atau ada jawaban lain dari semua pertanyaan ini?
Aku terus bertanya-tanya dalam hati. Tapi tak ada jawaban. Nihil.
Aku terkejut ketika handphone ku
bergetar, kudapati sebuah pesan singkat yang bertuliskan namanya, nama gadis
itu. Kutarik napasku dalam-dalam sebelum mulai membacanya. Perasaanku tak
karuan, aku hanya berharap jawaban yang ia berikan akan sesuai dengan yang aku
harapkan.
“Kak, maafin aku. Dia memintaku untuk
kembali padanya, dan aku menyetujuinya. Sejujurnya aku masih sangat
menyayanginya. Maaf sudah mengecewakanmu, kak..”
Aku hanya terdiam, seketika aku
hanya mampu merasakan rasa sakit yang begitu menusuk hatiku. Bak sebilah pisau
di tusukkan menembus jantungku. Hatiku begitu sakit. Aku tak habis pikir,
Kenapa kejadian ini bisa terjadi untuk yang kedua kalinya? Kenapa aku harus
disakiti oleh gadis yang sama dengan alasan yang sama pula untuk yang kedua
kalinya? Kenapa aku tak bisa berhenti dan menghapus segala rasa sayangku pada
gadis itu? Perasaan ini begitu menyiksaku, Tuhan……
Aku merasa bahwa aku benar-benar
membutuhkan kepastian. Tak seharusnya gadis yang baik seperti dia
menggantungkan perasaan seseorang yang benar-benar tulus menyayanginya. Jadi,
saat itu juga kuputuskan untuk mengajaknya bertemu.
Entah sudah berapa jam aku
menunggunya, ia tak kunjung datang menemuiku. Aku mulai resah, aku takut ia tak
akan datang. Aku takut ia tak akan menemuiku. Aku takut semua ini akan berakhir
lagi dengan kekecewaan. Tuhan, aku benar-benar berharap ia akan datang untuk
menemuiku.
Apa yang aku takutkan benar-benar
terjadi, ia tak datang, dan tak akan pernah datang mengunjungiku untuk membalas
segala perasaanku padanya. Aku pulang dengan perasaan hampa, aku dapat merasakan
apa yang pernah dirasakan oleh Shakespare—Aku telah menyia-nyiakan waktu, dan sekarang
waktulah yang menyia-nyiakan aku.
“Aku tak pernah
merasa seperti ini sebelumnya. Aku tak tahu bagaimana perasaanmu padaku yang
sebenarnya. Apakah kita hanya teman? Atau bahkan lebih? Gadisku, kumohon, jika kau mencintaiku, biarkanlah aku tahu.
Tapi, jika tidak, tolong biarkan aku pergi.”
Ini
begitu berat untukku. Aku mulai berdebat dengan hati kecilku, entah apa yang
harus aku lakukan sekarang. Aku sedang dihadapkan dengan dua pilihan. Pilihan
yang cukup berat. Ketika aku harus memutuskan untuk “tinggal atau pergi”.
(Oleh
: Kiki Ofia Lestari)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar