Kamis, 10 Oktober 2013

“STAY OR LEAVE?”

“If you love me, let me know. If not, please let me go”
—ANONYMOUS

            Dia tak pernah tau bagaimana rasanya menjadi aku, menjadi orang yang selalu menunggunya, menunggu untuk cintanya. Cinta yang selalu ia berikan kepada laki-laki lain, laki-laki yang bukan aku.

            Senyumnya. Senyum itu yang mampu membuat hatiku terpaut padanya, sejak pertemuan kami hari itu, aku tidak pernah bisa berhenti memikirkannya. Aku mulai yakin, ialah gadis yang selama ini aku cari, gadis yang selama ini menjadi impianku. Dan kini dapat kurasakan ia tak akan lagi menjadi mimpi, ia telah menjelma menjadi sebuah kenyataan manis yang harus ku kejar dan aku dapatkan. Ya, dia harus bisa aku dapatkan.

            Hasratku sudah tak terbendung lagi untuk menjadikannya sang kekasih hati. Aku berpikir ialah yang terbaik, terbaik untuk menjadi pendampingku saat ini. Aku tak pernah lelah dan menyerah untuk mencari tau segala hal tentangnya. Aku tak peduli pada perbedaan usia kami. Aku menyayanginya, itu yang terpenting. Tapi, tak pernah aku sangka sebelumnya, bahwa aku harus menerima kenyataan pahit itu. Sang gadis pujaan hati yang selama ini aku impikan telah memiliki kekasih. Mendengar hal itu saja sudah membuat hatiku merasa teriris, apalagi setelah menghadapi kenyataan bahwa lelaki beruntung itu adalah adik sepupuku sendiri. Bisakah kalian bayangkan seberapa sakitnya hatiku menerima kenyataan itu?

            Aku terdiam. Tak ada yang tahu seberapa sakitnya hatiku saat itu. Aku menyimpan rasa perih itu sendirian, aku tak akan pernah membaginya. Tidak untuk adik sepupuku, bahkan tidak untuk gadis itu. Aku tak ingin ada yang ikut bersedih bersamaku, aku tak ingin mereka mengasihani aku, aku tak ingin merusak kebahagiaan mereka. Biarkan aku sendiri yang merasakan sakitnya, asalkan gadis yang kusayangi bahagia. Meskipun sebenarnya aku sangat menyadari kebahagian yang ia rasakan bukanlah karena diriku. Tak masalah buatku. Akan kusimpan perasaan ini untuk beberapa saat, dan nanti ketika waktunya telah tiba, aku akan mengungkapkannya, aku yang akan maju dan memberikan beribu kebahagiaan untuknya. Ya, untuk gadisku. Gadis yang saat ini kembali menjadi angan dan impianku.
           
***



            Akhirnya masa-masa penantian itu telah usai, ia dan adikku sudah tak terikat hubungan apapun. Aku cukup merasa sedih mengingat ia adalah mantan kekasih sepupuku sendiri, tapi aku tak dapat menyangkal bahwa hatiku benar-benar merasa bahagia. Aku senang, akhirnya dapat memiliki kesempatan untuk mengutarakan perasaanku padanya. Saat yang aku tunggu telah tiba. Kini aku kembali, dan waktunya untuk beraksi.

            Aku dan gadis itu mulai menjalin hubungan pertemanan. Aku sangat senang, ini merupakan awal yang baik bagi hubungan kami. Lamat laun aku dan dia semakin akrab. Terkadang aku sempat merasakan ia memiliki perasaan yang sama. Entah itu memang kenyataan atau hanya harapanku saja. Aku menyingkirkan segala pikiran negatif yang menyerangku, aku harus selalu berpikir positif jika ingin mendapatkan apa yang aku inginkan.

            Gadis itu, dengan segala tingkah lakunya yang sopan, tutur katanya yang lembut, dan senyumnya yang manis serta tawanya yang menggemaskan membuat aku semakin mengaguminya. Melupakannya begitu sulit, kurasa aku benar-benar telah menggilainya. Ia memberikan warna baru dalam hidupku. Aku tak henti-hentinya memohon pada tuhan agar kelak ia bisa menjadi milikku. Ia harus tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya terhadapnya. Ya, harus. Segera.

***

            Saat yang ku tunggu-tunggu akhirnya tiba. Hari ini kuputuskan untuk mengungkapkan seluruh isi hatiku padanya. Perasaan yang selama ini selalu ku pendam, perasaan yang begitu sulit untuk kuungkapkan, perasaan sayang yang begitu dalam untuknya. Ya, ini waktunya. Aku tak akan mengulurnya lebih lama lagi. Saat ini juga akan kuungkapkan, tak ada yang akan kututupi lagi. Tak ada lagi diriku yang hanya terus menunggu ketidakpastian. Ini aku, dan ini keputusan yang aku ambil. Saatnya maju untuk menggapai semua yang kuimpikan.

            Aku mulai resah, jantungku berdegup lebih cepat dari yang sebelumnya. Namun, ia tak juga menghubungiku, bahkan membalas pesan singkat dari akupun tidak. Seketika harapanku mulai runtuh begitu saja. Ada yang salah dari semua ini, sesuatu telah terjadi. Entah apa itu, yang jelas aku merasa apa yang telah kulakukan kembali sia-sia. Jadi, apa maksudnya ini? Ia menolakku? Atau ada jawaban lain dari semua pertanyaan ini? Aku terus bertanya-tanya dalam hati. Tapi tak ada jawaban. Nihil.

            Aku terkejut ketika handphone ku bergetar, kudapati sebuah pesan singkat yang bertuliskan namanya, nama gadis itu. Kutarik napasku dalam-dalam sebelum mulai membacanya. Perasaanku tak karuan, aku hanya berharap jawaban yang ia berikan akan sesuai dengan yang aku harapkan.
            “Kak, maafin aku. Dia memintaku untuk kembali padanya, dan aku menyetujuinya. Sejujurnya aku masih sangat menyayanginya. Maaf sudah mengecewakanmu, kak..”
            Aku hanya terdiam, seketika aku hanya mampu merasakan rasa sakit yang begitu menusuk hatiku. Bak sebilah pisau di tusukkan menembus jantungku. Hatiku begitu sakit. Aku tak habis pikir, Kenapa kejadian ini bisa terjadi untuk yang kedua kalinya? Kenapa aku harus disakiti oleh gadis yang sama dengan alasan yang sama pula untuk yang kedua kalinya? Kenapa aku tak bisa berhenti dan menghapus segala rasa sayangku pada gadis itu? Perasaan ini begitu menyiksaku, Tuhan……

            Aku merasa bahwa aku benar-benar membutuhkan kepastian. Tak seharusnya gadis yang baik seperti dia menggantungkan perasaan seseorang yang benar-benar tulus menyayanginya. Jadi, saat itu juga kuputuskan untuk mengajaknya bertemu.
            Entah sudah berapa jam aku menunggunya, ia tak kunjung datang menemuiku. Aku mulai resah, aku takut ia tak akan datang. Aku takut ia tak akan menemuiku. Aku takut semua ini akan berakhir lagi dengan kekecewaan. Tuhan, aku benar-benar berharap ia akan datang untuk menemuiku.

            Apa yang aku takutkan benar-benar terjadi, ia tak datang, dan tak akan pernah datang mengunjungiku untuk membalas segala perasaanku padanya. Aku pulang dengan perasaan hampa, aku dapat merasakan apa yang pernah dirasakan oleh ShakespareAku telah menyia-nyiakan waktu, dan sekarang waktulah yang menyia-nyiakan aku.

       “Aku tak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Aku tak tahu bagaimana perasaanmu padaku yang sebenarnya. Apakah kita hanya teman? Atau bahkan lebih? Gadisku, kumohon, jika kau mencintaiku, biarkanlah aku tahu. Tapi, jika tidak, tolong biarkan aku pergi.”
Ini begitu berat untukku. Aku mulai berdebat dengan hati kecilku, entah apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku sedang dihadapkan dengan dua pilihan. Pilihan yang cukup berat. Ketika aku harus memutuskan untuk “tinggal atau pergi”.



(Oleh : Kiki Ofia Lestari)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar